Senin, 06/09/2010 19:32 WIB
Tanah Rantau Mengubah Jalan Hidupnya
Jika diingatnya lagi, rasanya susah dipercaya kalau puluhan tahun silam, ia adalah seorang anak tama
...
MESKI TAK SELESAI SD
Berhasil Membina dan Menghimpun 200 UKM
CHRISTINE HAKIM
Sabtu, 22/08/2009 16:46 WIB

Kesusahan masa kecil. Inilah yang akhirnya menjadi cambuk bagi Christine Hakim, pengusaha “keripik balado” yang sangat populer dan sukses di kota Padang. Merek toko dan makanan yang dijualnya sudah menjadi imej bagi tamu-tamu, termasuk para pejabat dan orang penting yang datang ke ranah Minang. Jika menginginkan oleh-oleh, mereka akan ingat Christine Hakim. Namun, dibalik kesuksesan itu, Christine malah tak pernah membayangkan bakal memiliki toko besar seperti sekarang. “Tidak. Saya tak pernah bayangkan itu,” ucapnya spontan.
Bagaimana mungkin ia membayangkan yang muluk-muluk? Sekolah saja ia tak tamat. Orang tuanya juga dari kalangan tak mampu. “Benar. Saya tak tamat sekolah. Ijazah saya cuma SD, “lanjutnya lugu, tanpa sungkan-sungkan. Karena itu pula, Christine Hakim mengelola usahanya dengan otodidak. Pengalaman berdagang, dipelajarinya dari sang ibu, Ham Fung Hai.
Sejak Christine kanak-kanak, ia sudah menyaksikan ibunya dengan gigih berjualan demi membiayai hidup mereka enam bersaudara. Ham Fung Hai mencoba segala cara. Ia berjualan kerupuk kulit, kue, mie dan makanan apa saja. Kala itu rumahnya yang sempit di kawasan Muara Padang itu lebih mirip dapur karena semua makanan yang dijual ibunya diolah disana. Diakuinya, ibunyalah yang pertama mengajarkan membuat kipang kacang.
Christine yakin, kipang buatan ibunya sangat enak. ”Diolahnya pakai gula pasir. Gula pasir dihancurkan dulu baru dimasukkan kacang. Waktu itu saya kebagian merendang kacang. Merendang kacang itu kerja yang susah sekali. Karena menurut ibu saya, tidak boleh berhenti. Harus terus menerus. Saya sering menangis waktu disuruh mengerjakannya. Karena tangan saya rasanya pegal. Tapi saya tidak boleh protes,:” kisah Christine mengenang masa sulitnya.
Bisa dibayangkan gadis kecil, yang seharusnya masih bermain-main tetapi sudah diberi tugas dan tanggung jawab semacam itu. Ia merasa kerjanya berat. Tapi ibunya sangat keras. Anak-anak tak boleh protes dan bermalas-malas. Diakui Christine, ibunya sangat keras dan gigih. Jika tak gigih, sang ibu tentu tak bisa menghidupi keluarga, karena ayahnya Loei Sin, sudah meninggal ketika Christine berusia tiga tahun.
Christine di lahirkan di Padang, 29 Agustus 1956. Masa kanak-kanaknya, jauh dari kecukupan. Karena itu pula, Christine dan saudara-saudaranya yang lain tak bisa sekolah dengan sempurna. Menyangkut dirinya sendiri, Christine yang akrab disapa Kim ini hanya mengantongi ijazah Sekolah Dasar.
Saat SMP, ia memang sempat mengenyam pendidikan di sekolah Hindia. Tapi karena merasa kurang nyaman, Kim tak mau sekolah lagi. Ia lebih suka membantu kakak-kakaknya. Salah satu kakaknya mencoba usaha membuat keripik singkong. Ia ikut mengupas ubi, menggoreng bahkan menggiling cabe. Tapi usaha sang kakak tidaklah berjalan mulus.
Pada awal-awal usahanya, meski hanya membuat keripik dari setengah karung ubi kayu, tak semuanya laku terjual. “Keripik itu lebih banyak dipulangkan dari pada terjual. Dari 10 bungkus yang terjual hanya dua atau tiga bungkus. Waktu itu, kami menitipkannya ke toko,” ungkapnya. Saat itu, ia dan kakaknya belum menemukan cara yang baik untuk mengolah keripik agar bertahan lama. “Satu hari saja, keripik yang sudah dibungkus rapi dan bersih, langsung berubah warna. Bentuknya jadi kusam. Tentu orang mengira keripik itu sudah basi,” sambung Kim lagi.
Melihat tumpukan keripik yang lusuh dari toko, Kim dan kakaknya sempat menangis. “Tentu saja kami sedih. Kami sudah bekerja keras memasaknya dengan biaya yang lumayan besar, tapi tak ada yang laku,” kenangnya.
Tapi ia tak putus asa. Bersama sang kakak, ia terus berusaha mencari cara agar keripik itu bisa tahan lama. Dia coba terus dengan cara mengolah yang lebih baik. Perlahan-lahan, kemudian mereka menemukan kiatnya.
“Tiap hari kami lakukan percobaan agar keripik itu bisa tahan lama. Akhirnya kami tahu, hal itu bisa dilakukan melalui proses pembuatan dan teknik memasaknya. Mungkin karena sebelum itu, masaknya tidak sempurna. Cara mengaduknya, juga diperhatikan. Seperti memasak kue juga, ada orang memasak kue dengan resep dan adonan yang sama, tapi rasanya beda. Termasuk cara mengaduk dan membakarnya. Jadi teknik itu terus kami pelajari.,” jelasnya. Menurutnya tak ada resep khusus yang dirahasiakan.
Rentang lima tahun, perlahan-lahan, mereka mulai menemukan kiatnya. Keripik mereka mulai banyak terjual. Dari setengah karung ubi, kemudian mereka bisa memproduksi hingga 6 karung dan dititipkan di beberapa toko. Sampai tahun 1990, Christine membantu usaha pembuatan keripik kakaknya.
Menikah Di Usia 33 Tahun
Faktor usia, menjadikan Kim berpikir lebih jauh. Ia sudah 33 tahun. Kakak-kakaknya telah menikah. Christine pun mulai memikirkan masa depannya. Tahun 1990 itu, sebenarnya, diakui Kim, bahwa seumur itu sudah digolongkan terlambat untuk menikah.
Tapi hatinya belum tertambat pada seorang pria. Maklumlah, hari-harinya habis tersita untuk membantu kakaknya bekerja, sehingga ia tak sempat bergaul ke luar. “Lagi pula, saya tidak sekolah. Kami tak punya apa-apa. Mana ada laki-laki yang mau dengan saya. Ketika itu, saya merasa minder. Mana bisa saya memilih-milih untuk pasangan hidup dengan segala kekurangan saya,” akunya jujur. Akhirnya, Kim menerima saja lamaran dari seorang pria, bernama Hosman Salim. “Ia tidak bekerja. Boleh dikatakan pengangguran. Saya tak punya pilihan. Saya terima dia dan siap memulai segala sesuatunya dari nol.”
Perkenalan Kim dengan Osman suaminya memang tak kebetulan. Kala itu Osman tinggal tak jauh dari rumah saudaranya. Kim sering ke sana. Waktu itu, pemuda yang sehari-hari kerja di bengkel terserang penyakit yang tidak diketahui penyebabnya. Penyakit itu menyebabkan Osman tak bisa berjalan. Otomatis ia tak bisa bekerja karena kondisi tubuhnya. ”Saya kasihan. Sebelumnya saya sudah kenal baik sebagai teman. Saya tahu ia seorang pekerja keras. Tapi karena penyakitnya itu, dia tak bisa bekerja lagi di bengkel,” kenang Kim.
Kemudian karena desakan keluarga untuk menikah dan keluarga Osman juga mendorongnya, maka Kim memutuskan menikah dengan lelaki itu. Meski pengangguran, Kim yakin, mereka bisa bersama-sama menjalani kehidupan. Lantaran yakin perlahan-lahan penyakit Osman bisa disembuhkan.
Sesudah menikah, pasangan ini mencoba mandiri. Kim dan suaminya membuat keripik sendiri. “Saya nekad dan bertekad untuk mulai hidup baru. Kami coba dengan modal setengah karung ubi, seperti yang kakak saya lakukan. Saya juga memasukkan ke toko-toko. Saya cari langganan sendiri. Untuk menjaga hati kakak, saya tidak mau mengambil langganan mereka. Jadi semuanya saya awali dari nol.”
Untuk langkah awal, modal yang dimiliki Kim sangat terbatas. Hanya dua karung ubi, satu drum minyak goreng yang berisi sekitar 50 kilo. Dihitung-hitung kala itu modalnya hanya satu juta rupiah. .
Memang, diakui Kim, ia agak kesulitan. Kim tidak punya pekerja atau pun orang yang bisa membantunya. Sedangkan anaknya masih kecil dan butuh perhatian. “Mulai dari memotong ubi, menggoreng, menggiling cabe, membungkus dan mengepak, saya lakukan dengan suami. Waktu memulai kerja, anak-anak saya bereskan dulu, masukkan dalam boks kayu tak jauh dari tempat saya bekerja. Sambil menggoreng, saya urus juga anak-anak. Saat mereka menangis, saya menyusui mereka dulu. Setelah aman, saya teruskan kerja.” Meski melelahkan, tapi Kim merasa senang. Keripiknya banyak terjual. Pengalaman bersama kakaknya, adalah sesuatu yang paling berharga. Sehingga ia tak perlu mengalami pahitnya atau masa-masa sulit. Keripik balado buatannya langsung mendapat tempat di pasaran.
Christine ternyata tak salah pilih. Usahanya melesat dengan cepat. Mulai dari 2 karung, 4 karung, 6 karung dan bertambah terus hingga 15 karung selang 7 tahun. Christine juga sudah menggunakan 6 orang tenaga yang membantunya dalam produksi. Sedikit-sedikit keuntungan itu ia tabung berupa dollar. Saat itu, ia masih berperan sebagai orang yang memproduksi. Keripik yang ia hasilkan dititipkan di beberapa toko di Padang. Ternyata, nasib baik berpihak padanya. Krisis moneter terjadi tahun 1998. Dollar yang ia tabung menjadi modal awal untuk membeli sepetak toko yang langsung dijadikan sebagai rumahnya. Disinilah Christine memulai langkah sebagai produsen yang bertemu langsung dengan konsumennya. “Dengan toko sendiri, kita bisa tahu bagaimana keinginan konsumen. Semua saran dan masukan dari pelanggan selalu saya dengarkan,” ucapnya.
Kemasan Berlabel Nama Christine Hakim
Toko Christine Hakim yang beralamat di Jalan Nipah Padang itu mulai dikenali banyak orang. Pelanggannya tak hanya datang dari kalangan domestik, tetapi juga dari luar negeri seperti Malaysia dan Singapore. Sebagian besar pejabat atau tamu-tamu negara, bahkan kalangan selebritis yang pernah berkunjung ke Sumatera Barat, sangat akrab dengan keripik baladonya. Bahkan Titik Puspa, setelah kembali ke Jakarta, pernah menelponnya agar minta dikirimkan keripik balado dan makanan dari tokonya.
Satu hal yang sangat penting, dan kiat Christine Hakim mempromosikan produknya adalah dengan menggunakan kemasan berlabel namanya. Saat penjual lain belum memikirkannya, Christine malah dengan berani membuat kantong, boks atau kotak dengan merek tokonya. “Ini salah satu strategi promosi. Saat tamu-tamu itu kembali ke daerahnya, mereka tetap akan mengingat nama Christine Hakim. Mungkin saja ada kolega, saudara dan teman-teman mereka yang sempat mencicipi keripik saya, mereka dengan mudah mengontak ke alamat kami. Lagi pula dengan kemasan yang cantik, tentu jadi lebih menarik,” kata Christine. Padahal, seperti diakuinya, membuat kantong dan dus bermerek seperti itu membutuhkan biaya lumayan besar. Tapi efek promosi ternyata mempunyai pengaruh lebih besar.
Ide kemasan yang dinilainya sangat mahal itu, menurut Kim munculnya karena dorongan seorang pelanggannya. Tamu itu datang ke tokonya dan mengatakan bahwa usahanya masih kalah dari Surabaya. Disana, penjual oleh-oleh sudah menggunakan dus bermerek. Kok disini masih memakai dus mie atau air mineral? Biasanya, untuk pembeli dalam jumlah banyak, khususnya untuk pejabat yang akan dioleh-olehi, di tokonya akan mengepak dalam dus mie atau air mineral, dibungkus dengan kertas sampul buku coklat, lalu diberi alamat. “Kerjanya memang lama” sela Kim.
Kritikan dari pelanggannya itu jadi pemikiran bagi Kim. Iapun menanyakan dimana ia bisa membuat dus bermerek seperti itu. Iapun langsung pergi sendiri ke Surabaya, tahun 2003. Kebetulan waktu itu ada temannya di Semarang yang menikahkan anaknya. “Saya sekalian ke Sidoarjo, ada toko oleh-oleh Tanjung. Saya tidak malu bertanya-tanya sama mereka,” jelasnya lagi.
Selain itu, ia juga melihat ada mesin pengikat dus dengan tali kuning agar bisa ditenteng. Rasa ingin tahunya yang tinggi untuk kemajuan usahanya membuat Kim rajin bertanya. “Ternyata mereka sudah 18 tahun memakai mesin itu. Bahkan mesinnya terlihat hampir lecet. Sedangkan saya belum apa-apa. Saya Tanya apa disana ada yang menjual mesinnya. Kebetulan sedang kosong. Mereka menyarankan saya ke Medan,” sambungnya. Tanpa pikir lagi, iapun terbang ke Medan. .
Pertama menggunakan dus dan mesin pengikat itu, ia mendapat cemooh dari para penjual keripik yang kebanyakan berada di kawasan Pondok Padang. Mendengar cemooh itu, Kim hanya mengurut dada. Namun dibalik itu, pelanggan keripiknya semakin banyak, karena kemasannya yang bagus. Apalagi dus itu bermerek namanya, sehingga semakin banyak orang mengenal produknya.
Disadarinya, dengan merek itu, produknya semakin dikenal. Setidaknya, saat di bandara, ada orang yang membawa produknya, akan terlihat merek Christine Hakim. Hal itu merupakan promosi berjalan bagi tokonya.
Akhirnya, ternyata orang-orang yang mencemoohnya itu kemudian juga mengikuti jejaknya, menggunakan dus bermerek. “Itu sudah menjadi tuntutan zaman. Mau tidak mau mereka harus berubah. Setelah dua tahun saya pakai dus bermerek, mereka juga ikut-ikutan,” katanya.
Tidak itu saja, penjual keripik yang sama dengannya di kawasan Kampung Cina Padang itu juga meniru caranya dalam hal lain. Mereka mulai terbuka dalam berdagang. Bahkan mereka juga sudah berani mempekerjakan karyawan serta membenahi tata letak dan disain tokonya agar menarik.
Dengan banyaknya pengikut yang sama, Kim harus berpikir lagi, apa yang menjadi keunggulannya. Ia harus memiliki sesuatu yang beda. Makanya, dalam dus yang sebelumnya hanya ada namanya, ia tambahkan dengan foto rumah gadang yang diambilnya dari foto Istano Pagaruyung. “Rumah gadang ini ciri khas Minangkabau. Saya harus memperkenalkan kepada masyarakat diluar Padang bahwa produk Christine Hakim itu adalah asli dari Sumatera Barat,” tuturnya.
Sejalan dengan penambahan latar rumah gadang itu, Kim juga memberanikan membuat billboard di perbatasan kota Padang. Bagi tamu yang baru datang dari bandara menuju kota Padang akan melihat merek toko dan namanya. “Gambar itu khas saya. Ada tulisan selamat datang dan sebaliknya selamat jalan. Memang sangat mahal, tapi bagi saya, promosi seperti itu penting,” ucapnya.
Membangun Kemitraan
Kegigihan dan keuletan seorang Christine Hakim membuahkan hasil kesuksesan. Di tokonya bukan cuma ada keripik balado, tetapi beragam makanan termasuk kue-kue tradisional tersusun rapi memenuhi ruangan berukuran 10 kali 15 meter itu. Kue-kue dan makanan lain diproduksi oleh saudara-saudaranya dan pedagang-pedagang kecil dari berbagai daerah di Sumatera Barat. “Semua jenis makanan yang masuk ke sini haruslah yang terbaik. Saya selalu menekankan pada mereka agar menjaga kualitas dan rasa. Saya harus mempertahan imej yang sudah saya bangun puluhan tahun.”
Awal tahun 2005 lalu, ibu dari empat anak ini memperbesar tokonya menjadi dua pintu. Ia tak hanya menawarkan makanan sebagai oleh-oleh, tetapi juga sejumlah souvenir. Selendang khas Koto Gadang yang berwarna warni dengan nilai jual jutaan rupiah tampak terpajang dengan manis di tokonya. Baju kurung khas Minangkabau tersusun rapi di etalase berbaur dalam pernak-pernik berukuran mungil yang dapat dibawa sebagai souvenir. Barang-barang itu ia ambil langsung ke pengrajinnya.
Satu hal yang pantas ditiru dari pola kerjanya adalah tak kenal hutang. Christine selalu membeli kebutuhan tokonya dengan tunai. Mulai dari ubi kayu, minyak goreng, cabe dan semua makanan lain, ia bayar kontan. “Saya tidak mau berhutang. Saat mereka mengantar makanan seperti rendang, dendeng atau kue-kue kecil, seberapapun nilainya, saya langsung bayar. Saya tidak mau terlibat hutang,” ungkapnya dengan nada agak tegas.
Christine memang selalu menegaskan dalam prinsip bisnisnya, sekali-kali jangan terlibat hutang. Bahkan sebaliknya, ibu 4 anak ini malah memberikan hutang kepada mereka yang memasok barang ke tokonya. Seperti lebaran tahun lalu, seorang pembuat dendeng dari daerah meminta pinjaman modal padanya untuk membeli daging mentah dalam jumlah besar. “Saya kasih pinjaman mereka untuk modal. Nanti setelah makanan jadi, mereka masukkan ke sini, mereka langsung bayar. Saya cuma mau bantu mereka. Saya dulu kan pernah susah juga,” ujar Christine yang juga tak pernah memanfaatkan hutang di bank.
Tak hanya berupa pinjaman, Kim juga melakukan pembinaan terhadap UKM yang memasok makanan ke tokonya terutama dalam mengolah makanan. Seperti prodok kipang kacang yang diproduksi Fitra dari Batusangkar. Kim menceritakan pembinaaan yang ia lakukan sudah dimulai sejak pertama kali bertemu. Kala itu Kim diundang memberi ceramah dalam pelatihan UKM di daerah itu. Beberapa UKM memajang produk mereka, disanalah Kim mengenal kipang kacang Fitra.
”Waktu kami masih kecil, ibu saya membuat kipang kacang. Buatan ibu saya sangat enak dan digemari orang. Makanya saya ingin membina Fitra dan memberikan ilmu saya padanya,” kisah Kim yang langsung tertarik untuk menengok dapur Fitra.
Semula Fitra sangat malu bahkan dalam keluarganya yang semua adalah PNS, ia juga merasa malu karena membuat kipang kacang. Makanya ia dengan sembunyi-sembunyi melakukannya disamping tidak percaya diri. ”Saya beri tahu dia bagaimana cara merendang kacang agar tidak gosong. Wajannya harus tebal, tungkunya harus dengan api yang penuh. Gulanya harus gulapasir. Saya rasa saat itu dialah yang pertama membuat kipang dengan gula pasir seperti buatan ibu saja. Karena yang lainnya banyak menggunakan gula merah. Begitu juga kacangnya, saya bilang sama dia harus yang bagus. Pertama kali itu saya lihat kacangnya masih kualitas rendah. Sebagian ada yang gosong, jadi belang-belang,” papar Kim.
Pada awal itu memang masih terlihat kipangnya bercak-bercak. Kim penasaran. Kalau Fitra menjalankan seluruh saran yang ia berikan, bisa dipastikan tak ada yang gosong. Maka rasa penasaran itu ia jawab dengan langsung ke dapur melihat seluruh proses. Ternyata Kim tahu bahwa apinya tidak penuh. ”Saya yakin kalau semua dijalankan seperti saya sarankan, hasilnya sama dengan buatan ibu saya. Tapi kenapa masih belum bisa sama. Ternyata ketika saya tengok, apinya tidak full. Saya minta dia memperbaiki tungkunya, membuat disain sedemikian rupa sehingga apinya penuh dan rata,” lanjut Kim.
Akhirnya Kim bisa puas dengan terhadap hasilnya. Apalagi menurut Kim, Fitra adalah orang yang mau belajar dan mendengarnya. Sekarang ia boleh bangga karena dari usaha kipang kacang itu saja, Fitra yang tamatan Universitas Andalas itu sudah berhasil. Bahkan ia bisa lebih sukses dari saudara-saudaranya yang PNS. Fitra yang dulunya hanya nebeng tempat di rumah ibunya, sekarang sudah memiliki toko, meski masih kecil-kecilan. ”Ia pernah saya pinjami 10 juta untuk beli bahan baku persiapan menjelang Lebaran beberapa tahun lalu. Saya minta pengembaliannya dengan kipang kacangnya saja dicicil setiap bulan. Eh, ternyata dua bulan pinjamannya lunas, karena bertepatan libur lebaran,” ungkap Kim.
Bagi Christine, pedagang-pedagang kecil itu adalah mitranya. Tamu atau pelanggan adalah raja. Dua hal itu selalu menjadi perhatian utamanya. Makanya, jika ada komplen dari pelanggan, ia langsung mencatatnya. Karena itu pula Christine selalu mengupayakan agar berada di toko sepanjang waktu. Dengan begitu ia akan berhadapan lagsung dengan pembelinya. Dari mereka itulah segala keinginan dapat ia catat. Namun sejauh ini, kata Christine, belum ada yang protes tentang makanannya, misalnya berbau atau basi. Yang pernah ia dengar sekali waktu adalah masalah ubinya yang agak keras. Hal ini, kata Christine, memang sesuatu yang diluar jangkauan. Ada kalanya, ia mendapatkan ubi kayu yang agak keras, karena dalam musim kemarau. Tapi kondisi ini masih bisa ia atasi.
Pertama kali mendapatkan ubi kayu yang menajdi bahan bakunya, Kim membelinya di Pasar Raya Padang. Karena pengalaman dengan kakaknya sudah lama, ia tahu persis ubi kayu yang baik untuk keripiknya. Seiring dengan semakin banyak kebutuhan terhadap ubi kayu itu, ia mencarinya ke ladang-ladang masyarakat yang ada di Sumatera Barat. Ia menemukan ubi kayu yang cocok itu di daerah perbatasan Padang dan Pariaman. Melalui seorang toke, ia memesan ubi itu. Kebutuhannya saat ini sudah mencapai 1 ton setiap hari yang menghasilkan 250 kg keripik balado atau sama dengan 500 bungkus. ”Karena jumlah nya besar, peladang ingin memperbesar lahannya. Baru-baru ini saya pinjami mereka 50 juta untuk menyewa lahan beberapa tahun. Karena kita membutuhkan mereka, ya kita harus bantu. Mereka berladang untuk kebutuhan kita,” ujar Kim..
Sebenarnya kalau dinilai dengan uang, Kim sangat mampu untuk menyediakan lahan dan bertanam ubi kayu sendiri. Tetapi ia tak mau monopoli. Karena ingin memberikan kesempatan dan berbagi rezeki dengan orang lain. Bahkan untuk penjualan keripik baladonya yang mencapai satu ton itu menurutnya masih kurang. ”Tapi saya tidak mau memproduksi lebih. Saya kira untuk hidup kami sekeluarga sudah lebih dari cukup. Kalaupun permintaan masih banyak, saya minta saudara saya yang lain menyediakannya. Tapi saya harus bertegas-tegas dengan kualitas dan rasa, karena saya harus mempertahankan imej,” lanjutnya lagi.
Membentuk Koperasi
Sebagai orang yang tidak sempat mengenyam pendidikan, Christine mengelola usahanya secara alami. Meski memiliki sejumlah pegawai untuk menjaga tokonya, ia tak mempunyai manajemen seperti layaknya sebuah usaha. Apa dan bagaimana manajemen itu, Christine tak pernah tahu. Ia juga tak pernah mencatat setiap penjualan atau pembelian barangnya. “Bagaimana Ibu tahu keuntungan dan perkembangan usaha ibu tanpa pencatatan?” tanya pegawai dinas perindustrian dan perdagangan yang pernah datang ke tokonya. “Ya, begitulah Pak. Saya tidak pakai manajemen dan catat mencatat. Saya tahu keuntungan setiap akhir bulan. Berapa uang sisa pada saya, setelah membayar gaji karyawan dan membeli bahan baku, itulah untung saya,” katanya lugu.
Barangkali keluguan itulah, modal dan kunci keberhasilannya. Ia tak pernah neko-neko dan selalu jujur dalam menjalankan usahanya. “Kejujuran adalah kunci dari kesuksesan,” tegasnya. Dan selalu dalam setiap diberi kesempatan ceramah di hadapan UKM, selalu hal itu ia sampaikan. Selain kejujuran kunci sukses Kim adalah selalu melakukan inovasi yang dijadikan keunggulan dari usahanya.
Lantaran terbiasa melakuakn sesuatu dengan jujur, Kim menilai semua UKM dan mitra yang hampir mencapai 200 jumlahnya itu juga jujur padanya. Makanya tanpa berpikir panjang ia berani meminjamkan uang mulai dari jumlah kecil hingga puluhan juta. Caranya yang semacam itu mendapat kritikan dari pihak Dinas Perdagangan dan Perindustrian. Ia bahkan ditertawakan. ”Mereka bilang kerja saya salah. Tidak bisa ngasih pinjam begitu saja. Bahkan tidak pakai surat resmi . Saya disarankan membentuk koperasi. Tapi saya tak mau repot-repot,” tambahnya.
Karena Kim tidak peduli terhadap hal itu, pihak perindustrian membawa salah satu anggotanya yang membidangi koperasi memberikan sosialisasi. Ketika itu ikut hadir salah satu mitranya dari Payakumbuh yang ternyata pengurus koperasi. ”Ada ibu Elda waktu itu. Ternyata dia ketua dari salah satu koperasi di Payakumbuh. Anggotanya 600 orang. Saya kaget. Kok Ibu Elda bisa ya? Lalu saya tertarik, saya mau jugalah. Saya tidak terbayang akan bisa. Cuma karena Ibu Elda bisa, saya juga harus bisa. Sedangkan anggota kita sudah ada, yaitu seluruh UKM. Tinggal wadahnya saja,” tutur Kim yang membentuk koperasi lebih setahun lalu. Seluruh anggota koperasinya adalah perempuan.
Kesuksesan seorang Christine Hakim, dilirik oleh Indonesia Book Record dan memberikan penghargan terhadap keripik baladonya dengan sebutan paling enak dan laris. Dua kali ia menerima penghargaan itu, tahun 2007 dan 2008. Meski saat menerima penghargaan itu ada kalimat-kalimat yang bernada miring mampir padanya, Kim tidak begitu peduli. Baginya, tetap berusaha, membuat terobosan, melakukan inovasi, menjaga imej dan memuaskan pelanggan.
Bersamaan menerima penghargaan IBOR pada bulan April 2009 lalu, Kim meresmikan pula butik makanannya yang berlokasi disebelah tokonya. Bila biasanya butik adalah untuk pakaian, Kim malah menggunakan butik untuk makanan. Kemasan keripik dan tata letak makanannya didisain lebih eksklusif. ”Butik ini dirancang agar lebih eksklusif. Ruangannya lebih nyaman. Buat kalangan menengah ke atas. Tapi semua kalangan juga bisa masuk ke sini,” katanya.
Dituduh Mencatut Nama
Keberhasilan usaha keripik balado yang sudah ia raih dengan susah payah ternyata mendapat komplen dari artis populer dengan nama sama Christine Hakim. Ia bahkan dianggap telah memanfaatkan nama si bintang film itu untuk mencari kuntungan dalam berbisnis. ”Saya sangat kecewa dan sedih. Semua usaha ini saya rintis dari bawah dengan keringat sendiri,” ujar Kim dengan nada sedih.
Berita di sejumlah media Jakarta yang sempat ia baca beberapa tahun lalu membuat hatinya terluka. Bahkan ketika bintang film itu hadir di Padang awal tahun 2009 lalu memberikan aksi yang agak keras terhadapnya. Dalam sebuah pertemuan, dimana Kim juga hadir, uluran tangannya tak disambut artis Christine Hakim. Padahal ia berniat baik untuk bertatap muka. Lebih kecewanya Kim, pada beberapa wartawan di Padang, artis itu sempat melontarkan bahwa keberhasilan Kim karena mencatut nama besarnya
“Saya tidak pernah berniat untuk mencatut nama siapapun. Usaha yang saya rintis dari nol, lalu di media dikatakan saya mencatut nama artis. Toko ini menjadi besar benar-benar dari usaha saya, dari nol, dari usaha keluarga,” ungkapnya.
Menyinggung nama, diakui Kim, ia memiliki nama asli sejak kelahiran pemberian ibunya adalah Loei Tjeng Kim yang artinya seribu emas di langit. Jika diartikan, katanya nama itu sangat bagus dan ia menyukainya. Tetapi karena setiap warga keturunan diharuskan menggunakan nama Indonesia, iapun terkena dampak peraturan itu. Sehingga keluarganya memberikan nama itu
“Sejak 1994 saya sudah menggunakan nama toko Christine Hakim sesuai dengan nama saya. Untuk menjaga legalitas penggunaan nama itu pada tahun 2004, atas usul seorang pelanggan di Kanwil Kehakiman, saya mendaftarkan merek itu ke Kanwil Kehakiman dan HAM untuk mendapatkan Hak kekayaan Intelektual (HAKI),” paparnya.
Sertifikat HAKI itu diterima Kim pada Februari 2008 dan berhak memegang merek dagang Kripik Balado Christine Hakim. Dasar hukum nama tersebut jelas dalam sertifikat bernomor IDM000103297 dari Departemen Hukum dan HAM. Jika nama itu menjadi serupa, hal itu bukanlah kemauannya. ”Tak ada sedikitpun niat saya untuk mencatut atau memanfaatkan nama artis itu,” tegasnya..
Apakah karena masalah ini ia akan mengganti nama dagang keripik tersebut? ”Kenapa harus saya ganti, saya punya dasar hukum yang jelas untuk mempertahankan nama ini, yaitu hak merk,” tukasnya. (nita indrawati)








