parkir liar

Minggu, 07/03/2010 18:24 WIB

Oleh: fanny - padang


saya kemarin menghadiri wisuda kakak saya di Unand bersama saudara yang lain. Karena sampai di Unand agak mepet, saya lihat sudah banyak mobil berjejer di pinggir jalan sebelum sampai di rektorat Unand. Mobil kami disetop oleh tukang parkir. Katanya tidak ada lagi tempat parkir di atas, jadi harus berhenti disitu. Akhirnya kami berhenti di jalur dua sebelah kiri (krn dr bawah) tak jauh dari pertigaan sebelum rektorat.
Selesai memarkir mobil, saya langsung diminta uang parkir oleh seorang pemuda yg mengaku sebagai tukang parkir. Saya kaget karena ia meminta uang parkir 10 ribu rupiah. saya menolak tapi ia bersikeras. Katanya memang biasa segitu. Lagian kan cuma sekali setahun. Saya masih mencoba menolak, tapi ia memaksa. Saya tanya, ia mengaku bernama Anto dari Pauh. Dengan terpaksa saya membayar uang parkir yang diminta. Kami berjalan kaki menuju auditorium Unand. Di sepnajang jalan kami melihat tidak semua tempat penuh. Bahkan arah menuju masjid Unand, tampak masih banyak yang kosong. Sambil berjalan, kami beriringan dengan seorang ibu-ibu. Saya tanya dimana ia parkir. Katanya parkir di bagian atas, dan ternyata membayar parkir 5 ribu rupiah. Karena kesal, saya tanya kepada seorang satpam yang kami temui menjelang rektorat. Apakah parkir disitu legal? "Memang selalu begitu setiap wisuda," katanya yang kemudian saya tahu dari tulisan di bajunya bernama Andri. Artinya pihak Unand melalui satpamnya sudah tahu ada parkir semacam itu. Saya berharap Hal ini bisa ditertibkan. Membayar parkir lebih mungkin tidak masalah, tetapi nilainya sampai 10 ribu sangat keterlaluan.