Kirimkan Berita Anda - Citizen Journalism

Mencetak Sarjana Pencari Kerja

Minggu, 07/03/2010 13:54 WIB


padangmedia.com - Mendengar Rektor Universitas Andalas, Prof. Musliar Kasim berpidato di hadapan lebih dari seribu sarjana baru yang diwisuda hari Sabtu (6/3/2010) bagai kan segera terujud harapan-harapan lama di negeri ini.

Harapan adalah bagaimana semangat menjadi ambtenaar atau pengawai negeri di kalangan anak muda bisa berkurang kalau tidak akan habis sama sekali.

Dalam pengarahannya, Prof Musliar Kasim menegaskan kepada sarjana yang baru dilantik agar jangan selalu berharap menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), karena masih banyak lapangan pekerjaan lain yang membutuhkan tenaga dan pemikiran para sarjana dewasa ini.

Para sarjana baru itu diminta agar siap turun ke masyarakat dan bisa mandiri, Universitas Andalas telah memberikan mata kuliah kewirausahaan untuk mahasiswa. Sejah ini Unand berusaha menghadirkan pemateri yang sukses dalam berwirausaha dan berkompeten untuk memberi motivasi bagi mahasiswa.

Pesan lain yang disampakan Musliar kepada sarjana yang akan menjadi alumni itu adalah agar mereka selau mengembangkan komunikasi dengan banyak pihak dan menjaga hubungan dengan alumni lainnya. Dengan hubungan itu, diharapkan akan mendapatkan kemudahan.

Apa yang dapat kita tangkap dari pidato rektor Unand ini?
Bahwa semangat ingin menjadi PNS sudah terlajur merebak di kalangan pencari kerja. Begitu lowongan PNS dibuka, ratusan ribu langsung melamar. Padahal yang diterima hanya puluhan saja.

Ini menunjukkan bahwa ada tiga kemungkinan penyebabnya. Yang pertama karena angkatan kerja lebih suka jadi orang gajian di pemerintahan dan memandang enak bekerja di situ karena itu mereka rame-rame melamar kerja jadi PNS. Yang kedua, jalur PNS mungkin karena terpaksa saja lantaran lowongan di luar PNS ---seperti yang disebut Prof Musliar lowongan di luar PNS banyak terbuka—sudah sangat sedikit bahkan tidak ada. Penyebab ketiga adalah ketidaksiapan angkatan kerja bertarung menjadi wirausahawa seperti yang diharapkan Prof. Musliar itu.

Dari kenyataan yang kita lihat di lapangan, lowongan kerja formal bukan sedikit. Lihat saja halaman iklan koran-koran, bahkan media seperti Kompas atau Media Indonesia sampai memuat iklan peluang kerja itu sampai 10 halaman setiap minggunya.

Selain itu juga, kenyataannya bahwa semangat menjadi wiraswasta rupanya tidak cukup hanya dengan motivasi beberapa pertemuan di Universitas. Diperlukan penciptaan tenaga dengan skill dan kemampuan akademik yang hebat juga. Menumbuhkan jiwa enterpreneurship rasanya tak cukup dengan memberi mahasiswa ceramah satu dua kali oleh seorang wirausahawan. Jadi sebagaimana sering diungkapkan oleh pengusaha Ciputra, negara perlu menumbuhkembangkan
entrepreneurship pada masyarakatnya.

Kita sepakat dengan apa yang dilontarkan CIputra bahwa kita banyak menciptakan sarjana pencari kerja, bukan pencipta lapangan kerja, itu membuat masyarakat kita terbiasa makan gaji sehingga tidak mandiri dan kreatif.
Entrepreneur adalah seseorang yang mampu mengubah kotoran atau rongsokan menjadi emas. Dengan demikian, kata dia, negara selama ini hanya mencetak begitu banyak sarjana yang hanya mengandalkan kemampuan akademisnya, tetapi menjadikan mereka lulusan yang tidak kreatif.
Logikanya, seperti pendapat ilmuwan David McClelland, bahwa jika ingin sutu negeri menjadi makmur, sedikitnya 2 persen penduduknya mesti berwirausaha.

Menurut Ir Antonius Tanan, Direktur Human Resources Development (HRD) Ciputra Group yang juga menangani Ciputra Entrepreneurship School (CES), bahwa pada 2007 lalu AS memiliki 11,5 persen wirausahawan di negaranya (Kompas 30 Agustus 2009)

Sementara itu, Singapura memunyai 4,24 juta wirausahawan pada 2001 atau sekitar 2,1 persen. Namun, empat tahun kemudian jumlah tersebut meningkat menjadi 7,2 persen, sedangkan Indonesia hanya memiliki 0,18 persen jumlah wirausahawan.

Negara kita terlalu banyak memiliki perguruan tinggi dan terlalu banyak menghasilkan sarjana, tetapi sayangnya tidak diimbangi dengan banyaknya lapangan kerja. Akhirnya kita hanya banyak melahirkan pengangguran terdidik, tahun 2008 kita punya 1,1 juta penganggur yang merupakan lulusan perguruan tinggi.

Harapan yang dikemukakan oleh Rektor Unand di hadapan srjana baru hari Sabtu lalu itu seyogianya mesti melecut semangat semua pendidik dan peserta didik untuk mampu menghasilkan sumber daya manusia yang handal untuk menciptakan lapangan kerja, bukan untuk mencari kerja.***

Berita terkait


Komentar Anda

Ricky Idaman S.SH.MH

Kota Bukittinggi - Selasa, 09/03/2010 10:28 WIB
Program pendidikan di Indonesia baru samapi disitu sebatas pencari kerja..dihitung semenjang pendidikan kejuruan yang katan mempersiapkan tenaga siap pakai dan para Sarjana yang berkualitas hanya sejauh mimpi-mimpi, hal ini disebabkan kopetensi SDM yang dilahirkan sebatas manusia pemimpi. Kita berkecil hati dengan pola pemeberian modal kerja oleh bank nasional atau bank swasta murni kecendrungan memodali simata sipit ( China ) ini model konplik yang ada sehingga untuk beruaha sendiri seulit, PNS apa lagi..maka buat perogram pendidikan sesuai dengan keadaan dan kebutuhan masa.

Komentar Anda



Nama
Email
Lokasi
Komentar