Senin, 06/09/2010 21:17 WIB
Junaidi bin Jaaba
Tanah Rantau Mengubah Jalan Hidupnya
Tanah Rantau Mengubah Jalan Hidupnya
Jika diingatnya lagi, rasanya susah dipercaya kalau puluhan tahun silam, ia adalah seorang anak tama
...
LOMBA RINGKASAN BUKU
Mengapa Bertahan Di negri Orang
oleh: Stecy Aulia
Umum | Sabtu, 14/11/2009 23:21 WIB
Latar Belakang Buku
Hidup di luar negeri merupakan impian bagi setiap orang yang ingin maju. Apalagi untuk menuntut ilmu. Di antara kita dominan berpikiran bahwa sekolah di luar negeri itu mahal atau hidup di negeri orang itu susah. Jika kita perhatikan banyak pelajar-pelajar dari negara berkembang pergi ke negeri orang untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Seharusnya Indonesia juga bisa seperti itu.
Banyak negara-negara asing yang menyediakan kesempatan untuk mendapatkan fasilitas beasiswa dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ini sungguh merupakan kesempatan besar buat kita yang ingin maju. Dan juga berkarir di negeri maju dapat meningkatkan taraf hidup beberapa kali lipat di banding di Indonesia.
Sejumlah negara seperti Jerman, Jepang, Belgia, Amerika Serikat, Australia dan Mesir menjadi negara yang diminati oleh para pelajar di Indonesia. Adapun alasan mereka memilih negara tersebut sangatlah beragam sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka. Tidak hanya negara-negara di atas masih banyak sejumlah negara lain yang menjadi pilihan untuk melanjutkan pendidikan.
Selain itu kondisi kehidupan di negara maju lebih teratur dan perhatian penuh dari pemerintah membuat perkembangan individu masyarakat mereka jauh lebih baik di banding negara berkembang. Tidak terkecuali orang asing yang tinggal disana. Mereka mendapatkan hak yang sama dengan warga negara yang asli. Ini membuat lahirnya individu-individu yang berkualitas dan berpotensi karena pembelajaran mereka didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai.
Tujuan Buku
Buku ini dibuat dengan tujuan untuk memberi pencerahan kepada para pelajar yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri, bahwa hidup di luar negeri itu tidak seenak yang kita kira namun kenyamanan yang kita dapatkan tidak bisa dibandingkan dengan negara kita. Buku ini juga dapat membuka pikiran para pelajar yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri yang masih bingung dalam menetukan pilihan kemana mereka akan pergi, apa yang akan mereka lakukan, mampukan mereka menjalani hidup di luar sana, dan lain lain.
Menyatu dalam denyut kota di Jerman (Oleh: Cahayahati)
Di Jerman, kesejahteraan masyarakat sangat dipertimbangkan. Seperti orang-orang miskin, janda dan orang-orang yang lanjut usia. Mereka semua diberi tunjangan dan asuransi kesehatan oleh pemerintah. Disamping itu untuk pendidikan bisa didapatkan dengan biaya yang hampir gratis dari SD sampai SMA. Di negri ini pendidikan dan minat seseorang itu sangat diperhatikan mulai sejak dia kecil. Dan minat dan pendidikan yang bervariasi itu sangat dihargai oleh pemerintahan Jerman karena di Jerman tersedia jenis pendidikan yang bervariasi pula. Dan fasilitas untuk pendidikan ini pun sangat mudah didapatkan. Mulai dari informasi yang mudah didapat dan kebebahsan untuk berpendapat sangat dihargai.
Untuk fasilitas umum kita bisa menggunakannya dengan mudah. Harganya juga setengah lebih murah dibanding dengan kendaraan pribadi. Dimana fasilitas umum tersebut juga menyediakan potongan harga bagi pelajar. Namun di Jerman, system perpajakan sangat rumit dan memiliki potongan pajak yang sangat tinggi untuk pendapatan yang kita terima. Tapi potongan-potongan pajak ini akan digunakan kembali untuk jaminan kenyamanan dan bantuan. Sungguh pemerintahan yang sangat menyayangi rakyatnya.
Masyarakat Jerman pada umumnya sangat tertutup. Tapi bukan berarti mereka sombong dan memilih-milih dalam bergaul. Hanya mereka lebih hati-hati dalam menghadapi orang baru. Dan ketika mereka mendapatkan kecocokan mereka akan menganggap kita lebih dari teman bahkan sudah seperti keluarga mereka. Beginilah jika kita telah menyesuaikan diri dengan masyarakat Jerman, akan lebih sulit lagi untuk pergi meninggalkan negara itu dan balik ke tanah air. Ditambah lagi sudah terbiasa dengan sekian banyak fasilitas yang mudah didapat dan kenyamanan, serta ketenangan dalam melakukan semua kegiatan, semua itu tidak akan di dapatkan di Indonesia.
***
Hidup Di Belgia, Jepang, Amerika, Australia dan Mesir
Kali ini kita bercerita tentang hidup. Hidup di negeri orang tidak bisa kita samakan dengan hidup di negeri sendiri. Kita harus belajar menyesuaikan diri dengan gaya hidup dan kebudayaan mereka. Karena mereka juga mempunyai kebudayaan dan peraturan sendiri yang harus kita ikuti jika kita masih ingin menetap di negara mereka. Namun kita tidak di haruskan untuk merubah 100%. Karena di negeri orang pun kita bisa mendapatkan hal-hal yang berbau Indonesia seperti makanan khas Indonesia dan kebiasaan-kebiasaan lainnya yang tidak bisa kita gantikan dengan kebudayaan mereka.
Orang-orang di luar sana sangat menghargai waktu. Kita tidak bisa menggunakan kebiasaan di indonesia yang terkenal dengan istilah “WIB (Waktu Indonesia Bersosialisasi)”. Kita harus membiasakan diri untuk selalu on-time dalam kegiatan apapun.
Dalam lingkup kebudayaan, di sana kita bisa mendapatkan siaran televisi yang lebih berbobot dan berilmu pengetahuan. Tidak ada siaran-siaran yang merusak mental, tingkah laku dan pola pikir anak-anak maupun remaja. Semua bermanfaat. Tidak sama halnya dengan di Indonesia yang hampir semua siaran televisinya berpengaruh buruk terhadap generasi penerus bangsa.
Di bidang perekonomian, bisa dibilang hampir tidak ada penduduk luar negeri yang miskin. Negara-negara tersebut memiliki tingkat kesejahteraan masyarakat yang bagus. Tidak ada pengemis yang meminta-minta di pinggiran jalan seperti di Indonesia karena pendapatan jauh lebih tinggi sekitar tiga kali lipat dibanding dengan pendapatan di Indonesia. Maka dari itu pemerintahan mereka mampu memberi bantuan keuangan kepada masyarakat kecil baik dalam perniagaan maupun untuk tunjangan kehidupan mereka dan juga akan memberikan hukuman kepada penduduk yang berani meminta-minta atau berjualan di kaki lima. Karena mereka menganggap semua itu akan merusak tatanan kota. Tapi bukan berarti tidak ada orang miskin di sana. Ada juga pengemis yang rata-rata berasal dari suku asli mereka yang sering meminta uang kepada kita tetapi tidak dengan cara mengemis-ngemis seperti halnya di Indonesia.
Tidak sedikit dari mereka yang bersikap ramah terhadap sesama. Mereka tidak pernah pandang bulu kepada setiap orang baik itu warga negara sendiri maupun orang asing. Yang ada mereka selalu melayani setiap orang dengan baik tanpa pamrih, tanpa mengharapkan bonus. Karena dapat menolong setiap orang merupakan kepuasan dan prestasi bagi mereka.
Menjaga tertib lalu lintas juga penting bagi mereka. Karena mereka sangat menjunjung tinggi peratutan yang telah ditetapkan. Mereka menyadari bahwa peraturan dibuat bukan untuk dilanggar (seperti halnya di Indonesia) tetapi untuk dipatuhi dan dilaksanakan demi kebaikan bersama.
Dari segi kebersihan, menjaga kebersihan sangat penting bagi mereka. sampah misalnya, mereka mempunyai teknik tersendiri dalam pembuangan sampah yaitu membedakan tempat pembuangan sampah sesuai dengan jenis sampahnya. Sehingga tidak satupun sampah yang terlihat berserakan di kota mereka. Untuk mengahadapi yang namanya sampah saja mereka mempunyai teknik khusus. Sementara Indonesia kota yang sudah menerima Penghargaan ADIPURA pun masih terlihat sampah yang berserakan dimana-mana.
Jika kita tidak terlalu lancar berkomunikasi dengan bahasa mereka, kita tidak perlu khawatir. Karena banyak orang-orang yang mau mengajarkan kita berbahasa negara mereka dengan sukarela. Mereka termasuk orang-orang yang memiliki etika dan sopan dalam berucap. Mereka sering memberikan kita semangat lewat ucapan-ucapan mereka dan jika mereka melakukan kesalahan pun mereka tak segan untuk segera meminta maaf kepada kita dengan kata-kata yang indah di telinga.
Untuk kebutuhan sehari-hari sangat mudah didapatkan dengan harga terjangkau tanpa harus memikirkan naik turunnya harga barang. Karena harga-harga bahan pokok di negara-negara tersebut selalu dalam pengawasan pemerintah. Jika terjadi kenaikan harga bahan pokok maka pemerintah langsung turun tangan memberikan subsidi untuk menutupi segala kekurangan sehingga harga-harga bahan pokok tetap stabil.
Kali ini kita membahas keamanan. Tingkat keamanan di luar sana sangat tinggi. Kita bebas melakukan kegiatan sehari-hari dengan rasa aman tanpa ada rasa was-was akan adanya orang yang menjahati dan menggangu ketenangan kita. Mungkin akan timbul pertanyaan, Kenapa di negara-negara tersebut hampir tidak ada orang jahat seperti di Indonesia yang dimana-mana tersebar orang jahat? Jawabannya hanya satu. Masalah Perekonomian. Tingkat kemakmuran rakyat mereka merata. Pemerintah memberikan subsidi kepada rakyat-rakyat kecil atau tidak mampu sehingga keinginan mereka untuk memiliki dan merampas hak orang lain itu sudah tidak ada. Mereka lebih senang mengelola bantuan yang diberi pemerintah. Tidak sama dengan Indonesia, yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin tanpa ada perhatian yang khusus dari pemerintah. Kalau sudah begini siapapun pasti akan menghalalkan segala cara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Mereka juga sangat menjunjung tinggi hukum. Dalam hukum mereka tak pernah pandang bulu. Tak pernah membedakan antara si hitam dan si putih, si kaya dan si miskin, ini saudara siapa, ini orang tua siapa. Siapapun orangnya kalau memang resmi dinyatakan bersalah akan segera diproses dengan serius oleh pihak yang berwajib. Tanpa menerima sogokan, tidak mau menerima suap, tidak ada prioritas sedikitpun. Ini semua mereka lakukan karena pada dasarnya hukum tidak bisa dibeli.
Kali ini kita berbicara tentang makanan. Hasil-hasil pertanian di Jepang rata-rata berkulitas tinggi. Meskipun sumber daya alam mereka sangat sedikit sekali dibanding Indonesia tetapi mereka mengurangi ketergantungan negara mereka terhadap Impor. Mereka lebih bersedia untuk mengerahkan segala ilmu pengatahuan dan tenologi serta biaya yang mereka punya untuk menghasilkan produksi pangan sendiri. Makanan di sana juga dikemas dengan baik. Pada kemasan makanan tersebut dicantumkan informasi yang lengkap tentang makanan tersebut sehingga kita bisa memeilih makanan mana yang komposisinya sesuai dengan kita, makanan mana yang boleh dikonsumsi oleh orang muslim dan mana makanan yang boleh dikonsumsi oleh oarang yang menderita penyakit. Semuanya tanpa bahan pengawet. Namun kenapa bisa makanan yang biasanya di Indonesia cuma bertahan 1-2 hari di sana bisa bertahan lebih lama tanpa bahan pengawet?. Nah ini dia yang bangsa Indonesia tidak punya, mungkin punya tetapi mereka tidak mengaplikasikannya. Teknik Pengemasan Makanan. Makanan dikemas dengan menggunakan teknik tersendiri. Makanan tidak boleh terkontaminasi dengan udara luar jadi kemasan makanan dibuat hampa udara. Dan suhu tempat penyimpanan makanan juga harus diperhatikan. Namun keamanan pangan ini juga tidak akan terwujud jika tidak ada dukungan dari berbagai pihak yang terkait.
Pajak di luar negeri sangat tinggi. Semakin tinggi pendapatan kita maka semakin tinggi pula pajak yang harus kita bayar. Tetapi pajak-pajak tersebut jelas kemana perginya. Pajak yang di dapat kelola kembali untuk biaya pendidikan, sarana dan pra-sarana umum, subsidi untuk orang miskin, dll. Tidak seperti di Indonesia pajak tidak jelas juntrungannya.
Untuk menjalani hidup di luar sana membutuhkan biaya yang tidak kecil. Namun jika kita datang keluar negeri berbekal beasiswa, kita tidak perlu takut apakah dana yang kita dapatkan bisa berlebih atau malah kurang. Sebenarnya tidak hanya untuk hidup di luar negeri, untuk hidup di Indonesia pun kita harus menerapkannya. Berhemat untuk menabung. Kita bisa menyisihkan sebagian uang belanja kita untuk ditabung. Contohnya seperti hindari beli makanan di luar karena relatif lebih mahal lebih baik memasak. Itu akan jauh lebih hemat. Dan sisa uangnya akan bisa kita kumpulkan. Tetapi itu semua juga tergantung dengan individu masing-masing dalam mengelola uang apakah mereka bisa dengan cermat menggunakan uang yang mereka punya atau tidak. Belum lagi untuk menyesuaikan diri dengan gaya hidup mereka yang kadang bisa berubah dan tidak sesuai dengan diri kita. Ini semua membuat kita harus mempunyai energi yang kuat untuk menghadapinya dan menyesuaikan diri terhadap itu semua..
Namun sekali lagi alasan orang-orang pergi ke luar negeri itu adalah untuk memperbaiki kondisi perekonomian mereka. Mereka akan melewati rintangan apapun untuk dapat sampai di sana, dan tidak terkecuali orang Indonesia. Karena menurut mereka di negara asal mereka sudah tidak bisa hidup layak dan hidup aman. Mereka merasa tidak diperhatikan oleh pemerintah mereka jadi untuk apa mereka tetap tinggal di negeri mereka jika di negara orang mereka bisa hidup layak dan dianggap oleh pemerintah. Setibanya di negeri orang mereka mengerahkan semua keahlian yang mereka miliki untuk dijual baik itu merupakan hasil produksi maupun jasa demi memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Salah satu faktor orang-orang memilih untuk hidup di luar negeri adalah Gengsi. Amerika contohnya. Memang hidup di Amerika mempunyai penilaian yang luar biasa dari negara-negara lain termasuk Indonesia. Orang-orang kaya di Indonesia banyak yang rela menghabiskan semua uang dan hartanya hanya untuk hijrah ke sana padahal sesampainya di sana bukannya mereka hidup enak seperti di Indonesia malahan mereka harus memulai hidup mereka dari nol dan mereka pun rela berjuang dan mengorbankan semua itu hanya untuk Gengsi Hidup di Amerika. Tetapi banyak juga orang Indonesia yang tertipu karena terlalu berharap dengan gengsi tinggal di luar negeri. Dan itu dijadikan sebagai alat untuk memperdaya orang-orang yang tidak mau berusaha dan hanya menginginkan yang instan saja untuk sampai ke luar negeri dengan pendapatan yang memadai dan hidup yang layak. Padahal apakah mereka pernah berpikir apa yang akan terjadi di sana nantinya jika prosedur yang mereka lalui tidak resmi? Mereka dianggap pendatang illegal dan mereka akan masuk penjara.
Amerika memang menjanjikan kemakmuran dan uang, tapi tidak mudah untuk mendapatkannya. Ada beberapa perusahaan-perusahaan di sana jarang sekali menerima pekerja yang tidak mempunyai basic pendidikan di negara mereka sama sekali sekalipun itu ada sangat sedikit sekali dan hanya orang-orang beruntung yang bisa mendapatkannya. Banyak dari anak Indonesia yang berpendidikan tinggi dan membawa ilmunya ke sana dan setibanya di sana harus merintis karir dari nol seperti bekerja di restoran, jasa laundry, dll.
Kebudayaan orang luar adalah bersikap apa adanya. Mereka bebas mengatakan semua penilaian mereka terhadap sesuatu. Bebas mengeluarkan pendapat. Tidak perlu takut akan dianggap tidak menghargai, tidak sopan, terlalu berani, sok tahu, dll. Dalam dunia kerja mereka tidak membedakan pekerja berdasarkan warna kulit, ras, dll tetapi yang mereka lihat adalah skill dan kemampuan yang kita miliki. Ini juga yang membuat tidak terlihatnya perbedaan antara orang kaya dan orang kecil. Karena mereka merasa sama rata. Sementara di Indonesia hanya hanya orang-orang kuat dan para petinggi yang bebas berpendapat sedangkan omongan-omangan rakyat kecil dianggap angin lalu.
Sekarang bagaimana bisa orang menilai bahwa tinggal di negeri orang di cap sebagai Penghianat Bangsa kalau di negara orang kita mengharumkan nama Indonesisa sendiri. Dan bagaimana dengan sang pembela bangsa dan mengaku dirinya nasionalis yang kerjanya mempermainkan perekonomian negara apa itu bukan penghianat bangsa? Bukan ingin menjelek-jelekkan bangsa sendiri. Walau bagaimanapun kecintaan terhadap negeri maritim ini tetaplah terpatri di hati ini. Tapi ini memang keadaan negara Indonesia yang sebenarnya dan tidak bisa kita pungkiri.
Toleransi orang-orang di luar negeri pun sangat tinggi. Mereka menghargai perbedaan keyakinan yang ada tidak saling meremehkan dan tidak berkelompok-kelompok sesuai dengan ras dan keyakinan mereka. Mereka juga memberikan kebebasan bagi kita yang untuk beribadah. Misalnya shalat, kita pun bisa shalat dimana saja. Karena mereka memiliki tatanan kota yang bersih dan indah tidak mengkhawatirkan kita untuk melakukan ibadah di taman kota atau ditempat lain yang memungkinkan. Namun dibeberapa negara, mereka memiliki pandangan yang berbeda terhadap kita orang Indonesia. Bisa dibilang mereka menganggap kita rendah. Apalagi bagi wanita-wanita berjilbab. Bahkan ada diantara mereka di beberapa kota yang tidak mengizinkan ada penduduknya yang berjilbab. Tapi itu semua tergantung bagaimana kita bersikap di negeri orang dan bagai mana cara kita menghadapi orang-orang tersebut serta bagaimana cara kita melakukan pembelaan terhadap negara kita. Ini semua adalah salah satu tantangan yang harus kita hadapi.
Rata-rata mereka memanfaatkan fasilitas yang telah diberikan pemerintah. Perpustakaan contohnya. Di Australia, yang mayoritas penduduknya adalah pecinta buku dan suka membaca, hampir setiap waktu luang yang mereka miliki mereka habiskan untuk membaca di manapun mereka berada. Bahkan ada yang sengaja duduk di taman hanya untuk membaca. Maka dari itu perpustakan adalah tempat yang paling menjadi tempat favorit untuk menghabiskan waktu luang. Perpustakaan ini pun tak pernah sepi seperti halnya perpustakaan-perpustakaan di Indonesia yang hanya berisi buku-buku tua yang menunggu untuk dibaca. Begitu juga dengan kendaraan umum. Mereka lebih suka bepergian dengan menggunakan kendaraan umum dari pada haru menggunakan kendara pribadi. Karena biaya yang di keluarkan untuk kendaraan umum setengah lebih murah di banding kendaraan pribadi. Bahkan ada potongan-potongan harga untuk para pelajar.
Untuk pendidikan, mereka sudah memulainya semenjak usia dini. Potensi yang ada dalam diri kita sudah digali sejak usia dini. Mereka tidak pernah memaksakan kita harus apa dan harus jadi apa nantinya. Semua tergantung pada keinginan dan minat serta bakat yang kita miliki. Bagi kita yang beragama Islam tidak perlu khawatir tentang pelajaran agama yang diberikan di sekolah karena kita bisa menyekolahkan anak-anak di sekolah Islam. Sudah jadi rahasia umum kalau negara-negara di atas adalah merupakan negara-negara pendidikan yang sangat terkenal di dunia. Universitas-universitas di sana sudah banyak menghasilkan lulusan-lulusan yang berkualitas baik di bidang Teknologi, Science, Agama maupun di bidang lainnya. Dan sebagian adalah para pelajar dari Indonesia. Seperti halnya sebuah kota di daerah Timur Tengah sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia yang hijrah ke sana karena diperkirakan ada kurang lebih 4000 orang Indonesia yang menetap maupun menuntut ilmu di sana. Dan sebagian dari mereka hanya menghidupi dirinya dengan selalu meningkatkan prestasinya untuk mendapatkan beasiswa dan tanpa kiriman dari orang tua mereka. Dan hebatnya lagi beasiswa itupun mereka dapatkan.
Jadi kesimpulannya, menuntut ilmu di luar negeri tidaklah serumit, semahal, setakut yang kita bayangkan. Tetapi juga tidak gampang karena memerlukan pejuangan untuk menghadapinya. Dan jika ingin sukses di negeri orang salah satunya adalah kita harus bekerja dibidang yang benar-benar kita kuasai dan mengerti dengan kebudayaan mereka. Intinya kita mau menjalaninya dengan serius maka semua impian akan kita dapatkan termasuk hidup layak di negeri orang. Dan penjelasan-penjelasan diatas telah menjawab kenapa luar negeri menjadi pilihan. Tetapi jika ke luar negeri hanya dengan niat untuk mencari uang banyak lebih baik urungkan saja niat untuk ke sana. Karena yang ada nantinya mencari uang dengan menghalalkan segala cara. Jangan sesekali percaya dengan Biro Pengiriman Tenaga Kerja yang tidak resmi. Karena hanya akan merugikan diri kita sendiri baik jasmani maupun rohani.
Dan dari wacana diatas bisa kita bilang bahwa hidup di negara maju jauh lebih nyaman, tenang, lengkap, sehat dan segala kebutuhan terpenuhi. Di sana juga kamampuan dan profesi kita lebih diharhgai di banding di Indonesia. Semua ini karena pemerintah mereka mencintai rakyatnya. Bukannya para pemerintah Indonesia tidak tahu bagaimana nyamannya tinggal di luar negeri. Seharusnya mereka lebih belajar banyak dari negara-negara lain bagaimana memajukakan perekonomian negaranya, bagaimana menghadapi masyarakatnya. Tidak hanya mementingkan diri sendiri. Menjaga kultural itu juga sangat penting sekali. Negara orang bisa mempertahankan budaya mereka bertahun-tahun. Sementara Indonesia malah mengadopsi budaya lain dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Lalu budaya kita yang beragam itu mau dikemanakan? Lama-lama bisa musnah kebudayaan kita
Nah, kita sebagai generasi peneruslah yang harus memperbaiki keadaan negara kita yang tercinta ini. Mulailah membuka hati dan membuka mata. Ilmu di luar sana lebih tinggi dan lebih berkualitas. Tidak ada salahnya kita menggali ilmu yang lebih dalam di negeri orang demi harumnya nama bangsa dan memperbaiki keadaan bangsa Indonesia yang semakin rumit. Semua itu tidak akan sulit jika kita serius menjalaninya.
***
Penilaian terhadap buku
LUAR BIASA. Saya salut dengan kesepuluh wanita tangguh itu. Membaca buku ini membuat saya tertarik untuk melanjutkan studi ke negeri orang. Pejuangan mereka menjalani hidup di negeri orang sangat hebat. Buku ini memberikan pencerahan bahwa jika ingin masa depan baik maka tuntutlah pendidikan yang baik. Berbagai warna cerita yang ada dalam buku ini menambah pengetahuan saya tentang negara luar. “Wah ternyata begini ya hidup di luar negeri!”. Saya tidak menyesal memiliki buku ini. Saya merasa puas karena buku ini memberikan sesuatu yang baru dalam pemikiran saya. Terima Kasih untuk ACI.
***







