Jumat, 10/09/2010 01:34 WIB
Junaidi bin Jaaba
Tanah Rantau Mengubah Jalan Hidupnya
Tanah Rantau Mengubah Jalan Hidupnya
Jika diingatnya lagi, rasanya susah dipercaya kalau puluhan tahun silam, ia adalah seorang anak tama
...
(Isu) Bencana Alam: perempuan yang paling terpukul
oleh: Afriva Khaidir *
Dunia Perempuan | Rabu, 03/03/2010 10:02 WIB
Beberapa waktu lalu, di sejumlah kantor, termasuk kantor kami heboh lagi karena tersebar berita tentang prediksi gempa dahsyat di kawasan barat pulau Sumatera. Bahkan canggihnya, berita ini sudah “menetapkan” bahwa kekuatan gempa akan mencapai 8,5 Skala Richter.
Kawan-kawan yang notabene adalah terpelajar dan akademisi cukup cemas juga karena informasi ini datangnya dari Barat yang dianggap sebagai pemegang otoritas keilmuan kontemporer. Namun demikian yang paling khawatir adalah kawan-kawan wanita atau ibu-ibu. Apakah karena naluri keibuannya dan sensitifitasnya saya tidak begitu paham, namun pada kenyataannya kalau terjadi sesuatu bencana rasanya yang paling khawatir dan repot adalah kaum perempuan.
Kecenderungan demografis yang ada menempatkan perempuan dalam proporsi yang cukup dominan. Disadari bahwa mereka memiliki peran yang juga semakin kompleks baik di sektor domestik maupun publik, namun dalam pengamatan saya pada kondisi krisis atau bencana perempuan menjadi penjaga gawang yang harus stand by mengantisipasi berbagai kemungkinan terburuk.
Kembali kepada gempa 7,9 SR di Padang dan Pariaman pada penghujung September yang lalu. Saya menyempatkan diri untuk berkeliling memperhatikan kondisi seputar Padang dan sekitarnya yang luluh lantak dihajar gempa. Pada saat awal-awal kondisi tanggap bencana, sebagian besar penduduk memilih untuk menghabiskan waktunya di luar rumah. Demikian juga kegiatan domestik dilaksanakan di udara terbuka. Dengan keadaan ini, semakin kasat mata bahwa kaum perempuan dan nota bene ibu-ibu menjadi “tunggak tuo” dan “limpapeh” dalam arti yang sebenarnya.
Dalam periode 2 minggu pasca gempa, otomatis air bersih dan listrik belum kembali ke keadaan normal. Sebuah sungai yang hanya berjarak tidak sampai 200 meter dari rumah penulis mencerminkan perjuangan hidup manusia yang secara antropologis tidak bisa dijauhkan dari air. Di sungai yang terkadan keruh, karena kerapnya turun hujan, dilaksanakan berbagai aktivitas yang paling asasi dari penduduk sekitar. Mulai dari mengambil air untuk minum, mandi, mencuci pakaian, bahkan mencuci kendaraan dan pada akhirnya setelah semuanya selesai mengambil bekal air untuk disiapkan di rumah atau pengungsian.
Mungkin hampir 75% pengunjung sungai yang secara mendadak menjadi urat nadi kehidupan masyarakat sekitar itu adalah kaum wanita. Tidak sedikit dari mereka yang datang berasal dari tempat yang agak jauh dari sungai. Sebagian diantar oleh suami atau saudara mereka dengan kendaraan bermotor. Namun ada kesan bahwa masih tumbuh anggapan urusan air yang dengan sendirinya urusan “kehidupan” adalah urusan perempuan. Banyak kaum perempuan yang tidak mengetahui bahwa bahagian lain dari kota ini sudah hancur sedemikian rupa, karena mereka tidak mendapatkan waktu dan kesempatan untuk berwisata berkeliling sebagaimana kaum lelaki dengan motor atau mobilnya. Kaum lelaki ini sempat berjuang untuk antre mendapatkan minyak.
Dengan posisi sebagai penjaga gawang di rumah dan mengurusi masalah “kehidupan” tadi, dengan sendirinya perempuan mendapat porsi untuk memulihkan kehidupan keluarga yang porak poranda karena bencana. Urusan dengan anak bukanlah masalah yang sederhana. Mereka harus senantiasa berhadapan dengan anak-anak yang rewel karena terserang trauma gempa. Sebagian anak yang terpaksa tidur di tenda dan di teras rumah yang terbuka mulai terkena infeksi pernafasan dan demam. Anak-anak yang biasanya cukup disibukkan dengan bersekolah sehingga memberikan sedikit waktu untuk sang ibu melaksanakan tugas lain atau kalau beruntung sempat mengaso dan bersosialisasi, sekarang 24 jam berada di bawah ketiak ibunya dengan berbagai perangai dan ulah. Tentu saja ini sangat menuntuk kesabaran, ketelatenan dan daya tahan fisik yang luar biasa.
Kaum yang sudah berusia lanjut dengan konsep extended family yang masih cukup akrab dengan masyarakat kita dengan sendirinya juga menjadi tanggung jawab keluarga untuk merawat dan memfasilitasi. Berbeda dengan warga yang lebih muda, kaum tua ini tidak bisa banyak bergerak untuk mendapatkan sumber daya seperti air tadi. Dengan sendirinya, mereka harus dipastikan mendapatkan kebutuhan mereka dengan cukup memadai. Air menjadi sangat penting seperti untuk minum, berwuduk dan tentu saja mandi.
Sampai dengan saat ini instalasi air bersih di beberapa kawasan di kota belum kembali ke keadaan yang normal seperti sebelum bencana gempa. Dengan keadaan ini, tidak heran kalau harus dicarikan alternatif lain. Distribusi air dengan mobil tangki dan tersedianya sumur-sumur cadangan belum cukup memadai. Salah satu alternartif yang cukup populer adalah dengan mengkonsumsi air yang dibeli, baik berupa air galon, air isi ulang dan pembuatan sumur artesis. Manajemen air yang dikelola oleh kaum perempuan di rumah masing-masing menjadi suatu yang harus dirumuskan ulang polanya. Dengan air-air komersial ini, alhasil omset pembelanjaan menjadi cukup membengkak. Bagaimanapun hal ini harus dipecahkan karena sangat esensial dalam kehidupan domestik keluarga. Anak-anak harus bersih sebelum berangkat ke sekolah, makanan harus sudah tersedia dan sehat, sang suami juga harus sudah necis untuk berangkat ke kantor atau mencari nafkah di luar rumah.
Dengan demikian, bencana yang terjadi mengingatkan saya kepada berbagai kajian tentang keadaan di berbagai negara “under-developed” di kawasan sub-sahara Afrika. Perempuan menjadi seorang manusia super untuk memenuhi kebutuhan air keluarganya. Air yang merupakan esensi untuk kehidupan, pada masyarakat modern menjadi unsur yang terpenuhi dengan institusi negara dan swasta pada kawasan publik. Namun, pada keadaan bencana alam dan krisis saya merasakan kita dipaksa kembali untuk mengalami kehidupan yang lebih primitif dan pada keadaan ini perempuan memegang peranan yang semakin penting sebagai penjaga kehidupan. Kalau ada isu gempa dan bencana alam lagi yang tersebar, secara psikologis kaum perempuan yang paling terpukul. ***
*)Penulis adalah dosen di UNP Padang dan Ketua Forum Koalisi Komunikasi Pemberdayaan Perempuan dan Anak (FKKP3A) Yayasan Limpapeh Padang







