Terbetik

Leva Kudri Balti,S.Sn,M.sn

Tetap Kukuh dengan Tradisi

padangmedia.com , Kamis, 14 Februari 2013 19:54 wib

“Tradisi itu sesuatu yang unik. Dan itu adalah saya..” ungkapan semacam ini sangat sering terlontar dari mulut lelaki berkulit putih ini. Ia seolah menyamakan dirinya dengan keunikan tradisi. Apakah ia memang seorang yang unik?

Terlahir 24 Mei 1985. di Bunga Pasang, Painan, Pesisir Selatan Sumatera Barat , sebagai anak kedua dari 3 bersaudara. Ibunya Liviati S.Pdi, seorang guru SD dan ayahnya Badrul C.H. yang bekerja sebagai PNS. Sementara Levandra Balti,.S.S sang kakak serta Leva Azmi Balti adiknya, tengah menempuh perkuliahan di Farmasi Unand Padang.

Menamatkan SD dan SMP di kampung halaman, Unjy, sapaan sayang di lingkungan keluarga besarnya, sudah memperlihatkan ketertarikannya pada seni. Ia bergabung dalam paduan suara di sekolah maupun bernyanyi secara solo. Kegiatan Porseni di kelas V SD adalah langkah awal keterlibatannya berseni-seni. Kemudian berlanjut hingga ia SMP. Lelaki yang sangat dekat dengan ibunya ini bergabung dengan Marching Band sekolah.

Leva Kudri Balti, begitu nama lengkapnya, memutuskan untuk masuk ke SMKI di Padang untuk menyalurkan bakat seninya. Penyaluran bakatnya semakin terbuka ketika di sini. Pilihannya ternyata tak keliru. Dengan mudah ia beradaptasi, bertemu dengan orang-orang yang memiliki minat serupa. Tak menunggu lama, ia pun ditawari bergabung dengan grup Satampang Baniah binaan Bu Cun yang mengajar di sekolahnya.

Tanpa membuang-buang kesempatan, Leva serius menggali ilmu. Ia tak hanya tertarik pada seni modern, tetapi juga seni karawitan. Saking seriusnya, ia tak sungkan-sungkan menunggui para seniornya latihan. Ia amati geraknnya, ia pahami maknanya. Hampir seluruh waktu luangnya ia manfaatkan duduk bersila di ruang latihan di sekolahnya. Karena kebiasaannya itulah ia digelari si “lepok”. Nama itu jadi sebutan kesayangan bahkan hingga sekarang.

Dihonori Tiga Ribu

Leva memang tak pernah berhenti belajar. Ia nyinyir bertanya dan rajin berdiskusi, terutama dalam seni tradisi. Iapun mulai terlibat. Debut pertama, ia diajak dalam pementasan “membatu” karya tari koreografer Deslenda. Kemudian Maarak Baralek dengan honor tiga ribu rupiah. Sebagaianak sekolah yang jauh dari orang tua, uang itu menurutnya sudah lumayan untuk menambah koceknya.

Usai penampilan pertama, kedua, ketiga dan kemudian mengalirlah penampilan lain-lainnya yang menurutnya sangat berarti. Sebab ia diajak untuk penampilan di Yogyakarta dalam iven Promosi Kompetensi Siswa. “Saya bangga bisa ikut ke Yogyakarta,”ungkapnya polos.

Sejak itu, banyak iven yang ia ikuti . Diantaranya, Leva diajak komposer Susandra Jaya, pemusik yang juga dosen diSTSI Padangpanjang, saat menampilkan karyanya di Taman Budaya Padang. Kepiawaiannya mulai diperhitungkan, meski masih menjadi siswa di SMKI. Ia bergabung dengan seniornya dalam grup Lansano dimana grup ini kemudian dipercaya Dinas Pariwisata Kota Padang, tampil dalam rangkaian Konser Musik Budaya pada tahun 2004 di Ethiopia.

Terlanjur cinta, agaknya Leva tak ingin keluar lagi dari dunia seni yang sudah melekat dalam dirinya. Iapun memilih kuliah di STSI Padangpanjang. Sebenarnya, kampus ini tak asing lagi baginya, karena ia sempat PKL disana. Disanalah bakat seninya semakin diasah. Berada dalam lingkungan seni yang beragam, ia memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk belajar. Ia bergaul dengan senior, bahkan tanpa sungkan mendekati dosen-dosennya, dengan satu tujuan, memperkaya ilmu.

Sebaliknya, para senior juga melihat kegigihannya. Ia diajak membantu proses ujian akhir seniornya. Leva juga ikut bergabung dengan sanggar Si Kambang Manih asuhan Ayah Em. Bersama grup dan binaan Ayah Em, iapun berkesempatan mengikuti pentas keliling ke Malaysia, Penang membawakan drama musikal karya Wendy H.S tahun 2006..

Saat di ASKI itujuga, Leva mendapat kesempatan berduet dengan Thomas Kerei, seorang mahasiswa dari Cheko yang kebetulan berkunjung ke kampusnya. Thomas ke ASKI dalam rangka memperkenalkan permainan Jimbe dengan American style. Ia merasa bersyukur dapat berduet dengan Thomas untuk performance di SMA N 1 Padangpanjang. “Saya kaget ketika Thomas Kerei mengatakan diantara sekian banyak mahasiswa yang mahir main jimbe cuma saya yang memiliki gaya permaian mendekati American stlye,” ucapnya.

Pernah “Ngeband”

Meski berminat mempelajari seni tradisi, ternyata Leva aktif juga “ngeband” yang telah digemarinya sejak SMA. Tahun 2005, bersama Hasan, Husin dan Donny Angga, teman satu kosnya, mereka membentuk Ranah Band . Karena kemahirannya, ia juga ditawari oleh Arip Chaip pentolan Cherry+. Ia selalu tampil dalam setiap acara performance dan festival yang diisi oleh Cherry+. Tapi tidak lama. Lantaran beberapa hal yang kurang sesuai, Leva memutuskan keluar dan bergabung dengan Mandez pada posisi gitar. Namun, saat memainkan lagu ciptaan, dalam festival ataupun penampilan, Leva pada posisi jimbe.

Tak lama, Leva memebentuk The Bandrol bersama teman-temannya di ASKI. Dibantu oleh Mayoret Studio, saat Dies Natalis STSI Padangpanjang pada 2007, The Bandrol manggung di Pelataran Teater. The Bandrol sempat vakum karena masing-masing personil sibuk kuliah. Tahun 2008, saat band Steven n coconutrez lagi bumming. Andrey, teman satu kos Leva menawarkan untuk membentuk band aliran reggae. Setelah melakukan beberapa penampilan, Andrey, Leva dan temannya mencoba rekaman dengan lagu-lagu ciptaan Andrey.

 

Tetap Kukuh dengan Tradisi

Meski sempat bergabung dengan band yang alirannya lebih banyak pop modern, Leva tak pernah lupa pada tradisinya. Apalagi terlahir di lingkungan yang tradisinya masih erat, Leva malah bertekadd untuk mempertahankan tradisi khususnya tradisi dari negeri asalnya, ranah pesisir. Menurutnya, layaknya bangunan, tradisi sangat kuat dan sulit untuk di rubah ataupun diruntuhkan. Suatu kebanggaan bagi Leva, hingga sekarang ia mampu mempertahankan tradisi yang tersirat dalam karakternya berkesenian. Bahkan tradisi itu sempat pula ia aplikasikan pada format band yang pernah ia geluti. “Tradisi itu unik,” begitu selalu katanya.

Konsep karya Leva lebih banyak ia amati dari kehidupan sehari-hari, dimana kenyataan masyarakat sekarang mulai berubah. Ia harus memperbaikinya. Karena itulah begitu menuntaskan pasca sarjananya tahun 2012, ia mengusung judul “Ruang yang Hilang”. Ia melihat anak-anak sudah melupakan permainan tradisi seperti tangkelek panjang, pacu karuang dan gundu. Anak-anak sekarang lebih suka bermain playstation atau Poker dan game online yang justru difasilitasi oleh para orang tua. “Saya sedih melihat anak-anak sekarang seharian di depan komputer untuk hal yang tak jelas. Jadi, melalui disertasi itu saya ingin sampaikan bagaimana seharusnya kita kembali merangkul anak-anak agar peduli dengan tradisinya,” papar Leva.

Alasan itu pula yang membuat Leva tetap bertahan di Padangpanjang. Ia ingin mengabdi dan memberikan yang terbaik bagi generasi seni dimasa datang. Impiannya adalah ingin mendirikan grup (ruang idealis dan ruang entertainment) yang berpegang pada tradisi. Selain itu ia juga ingin mendirikan Pondok berkesenian di kampung halamannya, Pasisia

Meski telah melanglang buana dengan seni tradisi ke berbagai daerah dan negara, Leva yang pernah mengikti festival budaya ke Jepang tahun 2011, ia tetap pada prinsipnya menjaga dan berusaha tetap melestarikan tradisi negeri tempat ia mengakar. (nita indrawati/dian permata sari)

 

Kegiatan :

1. Tampil bersama kelompok Gandang Tambua di Maninjau.

2. Tampil pada rangakaian Pedati di Bukittinggi dengan membawa Talago Buni.

3. Tahun 2006, ikut bersama sanggar Ayah Em pentas keliling ke Malaysia, Kuala Lumpur, dan Penang yang saat itu membawakan Drama Musikal, karya Wendy H.S.

4. SIEM 2008, masih dengan Talago Buni.

5. SIEM 2009 di Riau.

6. SIEM 2011 di Sawahlunto.

 

Berita Terkait