Elfi Afrizal Sinaro

Fokus Pada Penulis Lokal

padangmedia.com , Sabtu, 11 Agustus 2012 03:56 wib

Memimpin sebuah organisasi dengan ratusan anggota yang terdiri dari orang-orang pintar dan juga konglomerat, bukanlah persoalan yang mudah. Tetapi ia dapat melaluinya dengan baik selama 4 tahun  masa jabatannya. Bahkan dalam periode kedua, tahun 2011 ia kembali terpilih secara aklamasi. Sebuah catatan sejarah dalam IKAPI DKI tentunya. Karena sejak keberadaan organisasi ini, belum pernah terjadi seperti ini.

 

“Saya tidak merasa paling hebat atau paling pintar. Tetapi saya sudah berbuat dan saya sudah buktikan melalui program dan kegiatan-kegiatan,” ungkap H.E.Afrizal Sinaro, Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DKI Jakarta, kepada padangmedia.com, suatu ketika di Padang

 

Menurut Efi, begitu ia akrab disapa,  program atau kegiatan-kegiatan adalah bukti nyata yang sudah dirasakan oleh anggota IKAPI.  Kalaupun ia sudah berbuat, tetapi anggota tidak merasakannya, ya, percuma saja.  “Tapi syukurlah, apa yang kita kerjakan, sudah dirasakan oleh anggota.  Kita merancang program, bagaimana IKAPI itu jadi milik bersama, tidak  hanya milik pengurus. Kita  merangkul semua pihak tidak hanya orang Padang. Kalau kita punya konsep kebersamaan, maka kesulitan juga dibagi bersama,” tutur  pria kelahiran  Koto Marapak Kab Agam Sumatera Barat.

 

Jiwa kepemimpinan yang tumbuh dalam dirinya, bisa jadi terbentuk karena posisinya sebagai sulung dari 7 bersaudara.  Meski  sejak kecil ia sudah merantau dan hidup bersama sang paman di  Jakarta,  otomatis,  ia tak banyak  mengurusi adik-adiknya kala itu.  Tetapi sebagai cucu tertua dari keluarga besarnya, ia merasa punya tanggung jawab, harus  berhasil dan jadi “orang”.  “ Sejak kecil, dalam hati sudah saya tanamkan bagaimana saya bisa  seperti paman. Saya melihat, paman itu orang yang hebat, seorang ulama yang dihormati, dan disegani oleh kalangan atas. Saya sangat mengagumi beliau,”  katanya.

 

Sang paman yang disebut Efi adalah Ustad  KH. Mawardi Labay El Sulthani, kakak ibunya yang sangat populer di era orde baru.  Ia  sering berceramah di lingkungan departemen dan kalangan istana. Ia juga dikenal dekat dengan  Harmoko (Menteri Penerangan) kala itu. “Saya  terobsesi melihat beliau. Sebagai ulama di Jakarta, beliau  berhubungan dekat  dengan pejabat, mulai presiden, Menteri dan konglomerat.   Beliau sangat luar biasa.  Saat itu saya berpikir harus bisa seperti beliau. Makanya saya langsung setuju ketika beliau menawarkan saya ikut bersama  beliau setelah tamat Tsanawiyah di kampung. Menurut  beliau, kalau mau maju, saya harus ke Jakarta. Kalaupun sekolah tinggi, tapi masih tetap di kampung, tetap saja susah untuk maju,” paparnya, menirukan kalimat pamannya waktu itu.

 

 

Sebagai ponakan, hidup bersama mamak  tentunya berbeda dengan orang tua. Apalagi istri mamaknya itu dari Jawa.  Boleh dikatakan, diluar jadwal sekolah, ia merangkap semua kerja  yang biasa dilakukan pembantu.  Ia membersihkan  rumah, menyapu halaman,  dan banyak lagi lainnya. “Saya tidak keberatan.  Saya bisa sekolah saja saya senang. Yang penting, saya bisa banyak belajar dari beliau. Saya ingin seperti beliau, meski tidak harus menjadi ustad,” ucapnya.

 

Akhirnya putra pasangan Hj.Nadiar dan  H Rusdi St Marajo (alm) itu meninggalkan kampung halamannya, meneruskan sekolah di MAN Mampang. Selain mengerjakan seluruh tugas rumah tangga, ia masih sempat berjualan “aia tabu” . “Saya terbiasa hidup prihatin.  Ayah cuma petani. Dikampung, waktu Tsnawiyah, saya pernah jadi knek. Di Jakarta, meski tinggal dengan om, saya tidak  bermanja-manja.  Dibiayai sekolah saja, saya sudah syukur. Jadi untuk kebutuhan lain dan jajan saya cari sendiri. Kebetulan ada saudara  yang berjualan aia tabu di Mayestik. Setelah semua pekerjaan di rumah  beres, saya  ikut jualan. Sorenya saya sekolah dan malamnya belajar, kadang-kadang ikut om saat ada jadwal ceramah, “ jelasnya.

 

Mamaknya Mawardi  Labay memasukkan Efi ke MAN dengan harapan agar ia kelak bisa menjadi ustad. Makanya setelah selesai, ia disuruh melanjutkan ke IAIN. Efi membantah. Alasannya, ia tak bisa berbahasa Arab. Namun pamannya tak  menerima alasan itu.  Kemudian Efi memberikan alasan lain. “Om, saya tidak mungkin jadi ustad.  Gimana saya mau jadi ustad, nama saya Efi, nggak pantas nama Ustad Efi.  Coba Mawardi Labay,  Abdul chalid, Abdurrahman, kan cocok. Masa nama ustad Efi,”  kisah Efi seraya tertawa. Agaknya  alasan  ini, meski dengan cara bercanda, bisa diterima pamannya. Akhirnya ia diberi kebebasan memilih tempat kuliah sendiri.

 

Saat bersamaan Efi melihat tetangganya  kuliah di NHI Bandung. Sepertinya keren sekali, kuliah memakai dasi. Ia mencoba tes di Bandung. Ada dua ujian yang harus ia lalui, bahasa Inggris dan Psikotes. Efi tidak lulus Bahasa Inggris.  Tapi ia tidak patah arang. Iapun menjalani kursus bahasa Inggris selama setahun agar bisa mengikuti ujian lagi pada tahun berikutnya.

 

Sebelumnya, soal pilihan kuliah itu, ia pernah mengutarakan kepada neneknya.  Begitu mendengar akademi perhotelan, si nenek langsung protes. “Apa itu perhotelan, orang bejat  yang kerja di hotel. Nenek ndak setuju.  Saya berusaha menjelaskan  bahwa akademi perhotelan bukanlah seperti yang nenek pikirkan.  Saya tetap bersikukuh.  Saya ikut tes lagi . ternyata saya lolos bahasa Inggris tapi tidak lulus psikotes. Mungkin karena nenek tidak restu. saya putuskan tidak  masuk ke situ. Mungkin ini isyarat kalau saya tidak diperkenankan kuliah di sana. Akhirnya saya masuk IKIP Muhammadiyah, jurusan bahasa Inggris,” cerita Efi tentang kuliahnya.

 

 

Membantu Yayasan Harapan Ibu

Selain berceramah, Mawardi Labay memiliki sebuah yayaasan  yang bergerak dalam dunia pendidikan, mulai TK sampai SMA.  Tahun pertama i kuliah 1988, Efi  langsung masuk yayasan. Adalah Ahmad Satari, Sekretaris Yaysan Harapan Ibu yang memberinya  usul  agar bergabung dengan yayasan  pamannya.  “Mengapa harus jadi  guru? Ini yayasan besar milik om kamu. Ini harus kamu kelola,” kata Efi menirukan kalimat Ahmad Satari.

 

Jadilah Efi  sekretaris harian sementara  pamannya  sebagai ketua umum. Iapun mulai belajar mengetik, mengelola  yayasan  dan memenej guru-guru. Disamping itu, ia mengikuti pamannya  ceramah. “Dimana saja kegiatan yayasan saya hadir.  Saya  mulai bersosialisasi dengan masyarakat.  Kalau diingat lucu juga. Saya  harus mengatur guru-guru yang  kebanyakan sarjana.  Meski sekretaris harian  mengkoordinir semua unit, tapi saya masih belajar.  Itulah pengalaman saya bisa memenej sebuah organisasi melibatkan banyak orang. Selesai kuliah tahun 1995, saya tetap di yayasan.”

 

Pengalaman menarik bagiEfi adalah ketika menemani pamannya ceramah. Kebiasaannya sebelum memberi ceramah, Ustad dijamu di ruang khusus.  Di sana, si pemilik gawe, apakah itu Menteri, Jaksa Agung dan konglomerat, melakukan dialog secara terbuka. Efi mengamati  mereka berdialog sembari belajar.  Apa yang  ia miliki sekarang, diakuinya  banyak terinspirasi dari Ustad Mawardi  Labay  yang tak  ia dapatkan dari bangku sekolah.

 

Seorang Efi, tak pernah berhenti mengamati dan  belajar. Ia belajar dari lingkungan yayasan  yang  beragam, ia mengamati situasi dari satu tempat ke tempat lainnya dimana sang mamak  tampil berceramah. Semua orang ia amati.  Diam-diam ia mencatat dalam hatinya. Semua catatan itu ia tata menjadi bekal untuk masa depannya. Dan Ustad Mawardi Labay, adalah sosok yang secara tidak langsung telah menjadi figur  panutannya .  “Alhamdulillah, sekarang, dalam generasi kedua  di keluarga besar kami, saya sering dijadikan tempat berbagi.  Sebagai yang tertua dalam generasi kami, adik-adik suka meminta pendapat, berkonsultasi dengan saya.,” ucapnya.

 

Menyinggung keberadaan penerbit  Al-Mawardi  Prima  yang dipimpinnya saat ini, diakuinya tak lepas dari andil Harmoko. Kala itu,  tahun 1995, Harmoko yang sering hadir saat Ust. Mawardi Labay berceramah menyarankan agar naskah-naskah ceramah Ustad dibukukan.  Saran Harmoko langsung disambut Pak Ustad  dan meminta Efi mencari tahu soal penerbitan.  Kebetulan, Kepala Bidang pendidikan di yayasannya  bernama Maderman adalah Ketua IKAPI DKI kala itu. Efi pun menceritakan dan menanyakan bagaimana caranya menerbitkan kumpulan naskah ceramah  pamannya. “Makanya kami buka penerbitan bertiga.  Saya, paman dan Pak Maderman. Itulah cikal bakalnya,” jelas Efi.

 

Tiga tahun pertama,  penerbit Al Mawardi Prima  menerbitkan seluruh naskah kepunyaan sang Kiai.  Lebih banyak dengan tema dzikir dan doa. Perkembangan  penerbit itu  sangat pesat. Buku yang diterbitkan  selalu habis terjual.  Maklumlah, sebagai ustad, Mawardi Labay selalu membawa bukunya saat berceramah.  Ia menjualnya dari masjid ke maasjid, dari satu tempat ceramah ke tempat lainnya.

 

“Buku kami tidak ada di toko buku. Paman saya menjualnya  secara langsung dengan gayanya sendiri. Misalnya beliau ceramah di mabes, ketemu panglimanya Faisal tanjung. Paman langsung bilang, Pak Faisal ada berapa anggotanya? Ini  buku saya, dibeli ya untuk anggotanya. Kemudian paman ceramahlagi di Indocemen. Ketemu Sudwikatmono. Pak Dwi, berapa karyawannya semua.  Beli nih buku saya untuk karyawannya biar berkah. Pak dwi langsung beli dalam jumlah ribuan. Wah, bukunya jadi  best seller.  Memang rata-rata orang yang disuruh beli itu semuanya orang berduit. Mereka juga tampak sangat menghormati paman. Jadinya  langsung merespon,” papar Efi dengan menambahkan bahwa cara seperti itu memang cocok dilakukan pada masa itu. Menurut  Efi,  zaman sekarang tentunya tidak sesuai lagi.

 

Beberapa tahun kelahiran penerbitan itu, buku-buku yang diterbitkan hanyalah karya K.H. Mawardi Labay. Tibalah saatnya sang paman sakit-sakitan. Efi mesti mengantisipasi  dan mencari cara agar bisa membuka diri untuk karya orang lain. Iapun perlahan-lahan mulai memasukkan pikirannya agar pamannya tak  menolak gagasannya. “Awalnya saya cemas, takut om marah. Sementara untuk menjaga kesinambungan penerbitan ini, haruslah terbuka untuk penulis lain. Waktu saya sampaikan, om langsung nanya. Mau menerbitkan karya siapa?  Karena kita penerbit buku Islam, bukunya harus diseleksi.  Saya langsung ingat Pak Rusli Amin, asisten om yang sering berceramah menggantikan om kalau berhalangan. Wah, mendengar nama itu, om langsung setuju.  Itulah pertama kali kami menerbitkan karya orang lain.  Setelah itu, saya mulai mencari karya-karya lain yang sesuai dengan visi misi penerbitan kami yaitu syiar dan dakwah.”

 

Bicara soal best seller, menurut Efi,  adalah bagaimana penerbt mencari tema yang pas.  Dibutuhkan kejelian penerbit memilih tema yang  sesuai dengan kebutuhan masyarakt.  Selain itu,penerbit juga harus paham bahwa masyarakat  kita bukanlah pembaca yang baik. Jadi jangan disuguhkan buku-buku yangmembuat pembaca mumet.  Saat iniyang diperlukan pembaca adalah buku yang mudah dicerna, menghibur  dan aplikatif. Setelah dibaca, orang dengan mudah mempraktekkannya. 

 

Dicontohkan Efi, buku Dahsyatnya Doa Ibu yang diterbitkannya beberapa  tahun lalu menjadi best seller karena temanya pas.  Penulisnya bukan pengarang besar, hanya anak muda yang bisa menulis. “Buku itu fenomenal. Bicara tentang dahsyatnya doa seorang ibu. Seseorang bisa sukses karena ibunya. Saya, ustad, dan semua orang bisa berhasil karena doa ibunya. Buku ini universal. Semua orang, laki-laki, perempuan, dari negeri manapun, dari suku apapun, pastilah punya ibu. Makanya buku ini menjadi luar biasa,” tuturnya.

 

Gagasan tentang  buku ini memang datangnya dari penerbit. Diakui Efi, gagasan itu terinspirasi dari kisah pamannya sekaitan dengan nama Yayasan pendidikannya Harapan ibu.

 

Dulu,  saat  mendirikan yayaasan itu, Mawardi punya kisah sendiri. Nenek  Efi atau ibu dari Mawardi Labay punya kebiasaan  menyiapkan makan para ustad yang datang berceramah ke kampungnya. Suatu kali ada ustad  yang ceramahnya sangat hebat.  Ibu Mawardi sangat kagum. Kala itu ia sedang hamil.  “Ya Allah,mudah-mudahan bayi yang lahir ini bisa jadi ustad yang hebat seperti penceramah ini,” bisiknya seraya memohon  dan mengeelus-elus perutnya. Ternyata  doa Ibu Mawardi labay didengarkan Allah. Anak yang lahir  itu addalah KH Mawardi Labay.  “Begitu dahsyatnya doa ibu. Makanya saya terinspirasi dan meminta penulisnya membuat buku itu. Pasarnya bisa luas, masuk kelompok manapun. Siapa yang tak butuh doa ibu? Temanya universal , sesuai bagi semua orang. Alhamdulillah, buku itu sudah cetak ke 12 kali , sekali cetak 5 ribu. Copy rightnya juga sudah dibeli Malaysia,” sambungnya lagi.

 

Kejelian, disinilah dituntut  kejelian seorang pimpinan  sebuah penerbit. Karena penerbit itu adalah industri kreatif.  Hanya orang kreatiflah yang bisa hidup didalam dunia penerbit. Bagaimana bisa kreatif, sebut Efi, kita harus banyak keluar, kita harus tahu kebutuhan masyarakat. Kalau tidak  begitu ya susah.

 

Penerbit  Al Mawardi Prima memang lebih fokus menerbitkan karya penulis lokal . “Kalau bukan kita  yang mengangkat penulsi lokal lalu siapa lagi. Kalau orang lain suka pada penulis ngetop.  Kalau semua pada  memburu penulis  ngetop kapan lagi penulis lokal mau berkreasi. Begitu juga di Sumatera Barat. Yang tahu kebutuhan orang minang adalah orang daerah.  Makanya saya berharap penerbit di Sumbar mengeksplorasi karya penulis2 lokal,” ulasnya.

 

Menyinggung  duna perbukuan di Sumatera Barat, menurut pendapat Efi, minat baca di Minangkabau termasuk rendah. Ia mencontohkan penjualan bukunya, omset terkecil itu ada di Sumbar. Bisa jadi daya beli, bisa jadi minat baca yang kurang. “Urang awak, lebih senang mendengar karena hobi maota, lebih senang mendengar radio atau menonton TV dari pada membaca koran atau baca buku,” ucapnya.

 

Tetapi, tak bisa dipungkiri, orang Minang itu pula yang banya bergerak dalam usaha penerbita. Dari 395 penerbit  anggota IKAPI  Jakarta, lebih dari separuhnya adalah kepunyaan orang berdarah Minang. Bahkan pengurus dan ketua IKAPI DKI Jaya itu dalam beberapa periode sejak didirikan, kebanyakan orang Minang. Apakah hal ini berkait dengan kelahiran tokoh-tokoh Minang tempo dulu yang lebih banyak dari dunia pendidikan.

“Ya, bisa jadi ada benang merahnya. Sebagai orang Minang, dalam penerbitan buku itu tidak bisa dipisahkan antara bisnis dan idealisme kita. Kalau tidak berbisnis, tidak mungkin idealisme kita jalan. Kalau hanya berbicara bisnins, tidak ada idealism juga tidak bagus. Kami sebagai penerbit buku islam, punya dua target, yaitu mau berbisnis dan syiar. Apalagi mamak sebagai ulama, beliau ingin menyebarkan ilmu tidak hanya dalam ceramah. Tapi ada yang bisa di baca oleh orang yang tidak bisa mendengarkan ceramah. Kalau ceramah mungkin bisa hilang sesaat, tapi kalau buku bisa dalam jangka lama sampai 7 turunan,” ujar Efi yang menjabat  sebagai Direktur Utama PT Al Mawardi Prima, meneruskan usaha  pamannya. Dari industri perbukuan diakui, apalagi bila bergerak dalam buku-buku agama seperti apa yang ia lakukan, ada dua manfaat yang di dapatkan yaitu dunia dan akhirat, keduanya tidakbisa dipisahkan. Makanya, Al Mawardi Prima yang sudah menerbitkan 30 judul buku Ust. Mawardi Labai, bukunya banyak yang best seller. Seperti Asmaul Husna, Zikir dan do’a saat dalam kesibukan, sudah ratusan ribu eksemplar terjual.

 

Menyoal  minat membaca yang rendah, menurut Efi adalah tanggung jawab bersama antara tokoh masyarakat dan, pemerintah daerah dan para pengusaha bukui. Salah satu contoh, ia sebagai Ketua Umum IKAPI DKI Jaya mempunyai anggota hampir 400, sementara di Sumbar hanya beranggotakan 8 penerbit. Jadi harus ada kampanye bersama antara pemerintah, tokoh masyarakat, Bundo Kanduang dan pengusaha perbukuan. “Minat baca harus dikampanyekan kepada anak-anak hingga orang tua. Membaca itu mulai dari rumah. Kalau ibunya tidak pernah menyarankan dan menghalau anaknya, mana mungkin anak-anak terbiasa. Tidak cukup dengan gurunya saja. Sekarang peran pemerintah perlu,” ulasnya.

 

Pemerintah, kata Efi, menyediakan fasilitas, baik bukunya, taman bacaannya, sementara orang tuanya yang menyarankan,  jadi sejalan. Membaca buku harus dipaksakan kepada anak-anak, kalau tidak mereka nonton TV dan main game. Selain itu, menggenjot minat baca harus dilakukan kampanye yang terus menerus oleh pemerintah, mulai dari rumah sendir, sistematis dan terintegral. “Tidak bisa sekelompok saja. Kalau tidak, saya tidak tahu lagi apa yang terjadi bagi anak-anak kita di Sumbar,” tandasnya.