Terinspirasi dari Diari Amak

padangmedia.com , Rabu, 18 April 2012 00:00 wib

Menjadi hebat dengan popularitas sebagai pengarang, bukanlah hal yang secara tiba-tiba diperoleh Ahmad Fuadi, si penulis novel best seller Negeri Lima Menara dan juga sudah di filmkan. Tanpa disadari, dunia kepenulisan itu sudah tertanam secara perlahan sejak kanak-kanak melalui kebiasaan ibunya. Ketika SD, saban hari Fuadi kecil menyaksikan Amak (panggilan untuk ibunya) menulis diari, lengkap dengan daftar belanjaan dan hutang piutang. Melihat itu, ia berpikir, mungkin menarik juga kalau dilakukan. Makanya kemudian ia mulai menulis diari, mengikuti kebiasaan sang Amak. Sejak SD saya sudah menulis diari. Lama-lama kok kayaknya asyik juga. Akhirnya menjadi kebiasaan, hingga masuk ke Gontor. Saya menulis di majalah kampus, terlatih jadi wartawan. Di Gontor itu, tamunya kaliber menteri. Sebagai wartawan kampus wawancaranya sudah menteri, ungkap Ahmad Fuadi kepada padangmedia.com suatu kali dalam sebuah perbincangan di Padang. Ternyata ketika di perguruan tinggi, Hubungan Internasional Universitas Pajajaran bandung, kegemaran itu terus berlanjut, bergabung dengan majalah kampus, Saat yang bersamaan, ia juga harus menulis untuk biaya kuliah karena ayahnya meninggal. Dalam semester dua kuliah, tahun 1993 itulah ia menulis untuk mencari uang supaya bisa membiayai kuliah, membayar uang kos dan membelanjai kebutuhan sehari-hari. Mulailah ia menulis opini di berbagai koran, diantaranya Republika, Pikiran Rakyat, bahkan menulis di harian Singgalang. Tarikan dunia kepenulisan itu semakin kuat ketika ia lulus kuliah. Kebetulan Majalah Tempo terbit lagi, dan kebetulan pula majalah itu adalah favoritnya . Dulu, saat di Gontor, majalah referensi pembimbing kita adalah tempo. Jadi kami sudah terbiasa, dan menjadi favorit saya, ujarnya. Tamat kuliah, iapun bergabung dengan Tempo menjadi wartawan, tahun 1998. Sayangnya, tengah asyiknya menikmati dunia kewartawanan itu, hanya setahun, Fuadi memperoleh beasiswa Fulbright ke Amerika untuk kuliah S2 di School of Media and Publik Affairs, George Washington University. Iapun mengambil cuti dari Tempo, tapi tetap bertugas sebagai koresponden di Amerika selama 3 tahun. Dari sana ia tetap membuat reportase khusus dan melaporkan sejumlah peristiwa penting untuk Tempo. Paling fenomenal adalah peristiwa 11 September 2001, runtuhnya gedung WTC dari Pentagon, White House dan Capitol Hill . Selama bertugas menjadi wartawan, Fuadi memang lebih terkonsentrasi menulis liputan dan laporan. Ia sama sekali tak pernah menulis cerpen apalagi novel. Namun pada 2007, muncul dalam dirinya sebuah kesadaran baru untuk mengamalkan nasehat kiyainya di Gontor. Ada hadist Rasullullah yang berbunyi kurang lebih bermakna sebaik-baiknya manusia adalah membawa manfaat bagi orang lain. Ada pencarian ke dalam bagaimana supaya saya bisa bermanfaat bagi orang lain. Kita tidak punya kelebihan, tidak punya jabatan sehingga saya merasa sangatlah terbatas. Kemudian saya ingat kebiasaan menulis yang mungkin bisa memberi manfaat lebih banyak. Ada keinginan menulis novel, tapi tidak bisa. Saya terbiasa menulis, maka mungkin dengan menulislah saya bisa memberikan manfaat itu, tuturnya. Menjadi seorang wartawan, ia terbiasa dilatih menulis reportase dengan hukum 5 W plus 1 H. kemudian selesai. Begitu tulisan atau beritanya dimuat, ia sudah senang. Bagaimana menulis novel? Yang ia tahu, novel itu terdiri dari ratusan halaman. Apa bisa ya? Menurutnya, juga banyak perbedaan menulis berita atau laporan dengan menulis novel. Menjadi wartawan tidak boleh pakai perasaan, menulis novel malah lebih banyak emosi. Dalam masa menimbang-nimbang itu, istrinya Yayi, juga sama-sama wartawan di Tempo, mendapat tugas ke Singapore. Begitu pulang, dia membawakan buku Writing is novel. Bagaimana teknis menulis novel dalam bahasa inggris. Saya langsung baca dan tertarik sekali. Sambil membaca, saya nulis. Saya baca lagi, saya nulis lagi. Tidak cukup disitu, kami membeli buku lagi bagaimana memunculkan karakter dan menulis dialog. Sambil belajar saya terus menulis. Sementara yang ditulis itu adalah sesuatu yang berkesan, pengalaman selama di pesantren. Bahannya banyak sekali di memori masa lalu. Saya bongkar diari, semua ada terekam di situ. Tanpa sepengetahuan saya, ternyata Amak juga masih menyimpan semua surat-surat saya selama di Gontor. Saya gabung dalam sebuah narasi, sambil terus belajar menulis novel. Nah, beginilah jadinya, seperti Negeri Lima Menara, paparnya. Memang, diakui Fuadi, terasa sulit mengubah kebiasaannya dari menulis reportase atau berita menjadi narasi novel. Tulisannya, setidaknya menurutnya, terasa seperti tulisan laporan panjang liputan. Reportase jurnalis satrawi. Ia sukar menginjeksikan perasaan atau emosi ke dalam cerita. Perjalanan waktu membuatnya terus berproses dalam mengatasi hal itu. Kadang sampai sekarangpagaikan sebuah reportase. Novel berbentuk atau dengan gaya reportase sah-sah saja. Mestinya lebih kepada non reportase. Makanya banyak orang berkomentar novel saya itu sangat detail kayak deskripsi layaknya reportase, katanya seraya tertawa. Dari Keluarga Suka Baca Sebagai seorang pengarang, haruslah banyak membaca. Seperti dimisalkan Fuadi dalam workshop beberapa waktu lalu di Padang, tidak ada keharusan setiap hal yang ditulis dalam novel itu adalah sesuatu yang pernah dialami. Di depan mahasiswa Fakultas Kedokteran Unand dari UKM Jurnalistik Broca, Fuadi menyebutkan bahwa mendeskripsikan sebuah tempat dalam novel, tidaklah harus melihat langsung atau mengunjungi suatu tempat. Bicara soal latar belakang peristiwa yang mengambil setting di luar negeri, bukan mesti ke luar negeri. Tetapi dapat dideskripsikan dengan jelas melalui riset kepustakaan. Apalagi sekarang sudah ada Mbah Google. Fuadi mencontohkan dalam bagian novelnya terjadi pertemuan di London, ada lapangan terbuka dimana sekelilingnya dipajang lukisan dari pelukis-pelukis terkenal. Beruntung ia pernah ke tempat itu. Kalau tidak pernah kesana, kita harus punya referensi dari bacaan lain. Seperti dalam ceritanya berkisah tentang Yordania. Saya ambil di You Tube, dibantu visual foto agar lebih menyatu. Informasi secara tulisan juga bisa dicari di Google. Kuncinya, jika hendak menulis, juga harus banyak membaca, tegasnya. Fuadi beruntung, meski berasal dari keluarga sederhana, dimana ibunya Suhasni, adalah guru SD, ayahnya M.Faried Sulthani mengajar di Madrasah, tetapi keluarga besar mereka sangat gemar membaca. Ayah dan ibunya terbiasa memberi hadiah buku. Sementara kakeknya Buya Sutan Mansur memiliki pesantren kecil dengan ruangan khusus berisi buku-buku. Fuadi diberi kebebasan membaca buku di sana. Dalam perjalanannya , ia kemudian menyukai buku-buku karya Karl May, Enid Blyton, serta serial album ceita ternama. Semuanya menanamkan banyak latar belakang cerita yang ia kembangkan hingga sekarang. Dulu , saya juga membaca buku Makmur Hendrik Tikam Samurai. Dulu yang berkibar kan Haluan, banyak ceritanya, ada Giring-giring Perak. Karena kami semua gemar membaca, maka cerbung itupun terpaksa digilirkan mulai dari kakek, nenek , Amak, Ayah dan semua anggota keluarga lain. Saking sukanya membaca, nenek, setiap pulang dari pasar, ada kertas koran pembungkus belanjaan, juga dibaca sampai habis, katanya. Meski sudah tercatat sebagai pengarang terkenal, Fuadi mengaku tak satupun dari keluarga besar mereka yang pengarang. Kakeknya dari Matur memang pernah menulis beberapa lembar kisah hidupnya, tapi tidak teratur dan tak kunjung klar. Ayahnya, kata Fuadi, sangat ahli membuat naskah pidato. Darah yang benar-benar menulis itu tidak ada. Kedua garis ayah dan Amak adalah pendidik. Orang tua Amak di Matua, guru agama. Di pihak Ayah, kakek di Maninjau juga punya pesantren. Keluarga besar kami dari dunia pendidikan, ucapnya. Fuadi sendiri terlahir di Maninjau, 30 Desember 1972. Masa kecilnya, hingga usia 4 tahun, banyak dihabiskan di Salingka Danau Maninjau. Setelah itu, ibunya pindah ke Manggopoh karena diangkat menjadi guru di SD Manggopoh. Fuadi mengikuti ibunya, sekolah disana hanya sampai kelas I SD. Kemudian ia berpindah beberapa kali karena mengikuti ibunya yang juga pindah mengajar. Setelah SD I Manggopoh, Fuadi masuk di SD Koto Baru, kemudian Maninjau Balai Akad, sampai kelas 6. Belum sempat ujian akhir, ibunya pindah lagi ke Padang Lua, iapun turut pindah, mengenyam bangku sekolah SD I Padang Lua. Tamat SD, Fuadi melanjutkan ke MTs Padangpanjang. Saya bolak balik tiap hari dari Padang Lua ke Padangpanjang. Tamat MTs barulah saya masuk ke Gontor, jelasnya. Kisah dan pengalamannya di Gontor, seperti yang dialami Alif dalam novel Negeri Lima Menara, menurut Fuadi, agak mirip-miriplah. Tapi tidak persis, cetusnya. Kesamaannya, keinginan masuk ke Gontor memang dominan hasrat sang ibu. Dulu, cita-cita Amak pengen anaknya masuk sekolah agama. Saya ingin masuk SMA, akhirnya mematuhi kata Amak. Sedangkan Ayah, lebih memberi kebebasan dan akhirnya juga menyerahkan pada keinginan Amak, sambungnya. Dari tiga orang bersaudara, ia tertua laki-laki, sementara dua adiknya perempuan, tentulah Fuadi yang sangat diharapkan ibunya masuk sekolah agama. Ibunya sangat ingin anak laki satu-satunya itu menjadi seorang ustadz. Ya, semacam ustadzlah, seseorang yang mengajarkan orang dengan yang baik-baik. Kalau secara harafiahnya, ustadz tampil di depan mimbar, tapi saya menggunakan media tulisan. Amak sangat bersyukur karena doanya tak pernah putus, meski dengan cara lain, telah dijawab Tuhan, ujarnya. Kebanggaan seorang Ibu adalah ketika anak yang dikasihinya menjadi orang apalagi sesuai dengan harapannya. Meski tak berkotbah di atas mimbar, namun sang Ibu tetap merasa bangga. Hal ini jelas terlihat dari rona yang terpancar di wajahnya. Saat Ahmad Fuadi tampil dalam Kick andy yang juga menampilkan sosok wanita yang sangat andil membentuk karakternya sejak kanak-kanak, ibunya tampak bangga. Sayang, ayahnya yang bergelar Imam Diateh, tak sempat menyaksikan kesuksesan anak laki satu-satunya itu. Sekarang, putra sulung itu telah menjadi kebanggaan keluarga. Selain novel N5M best seller dan sudah difilmkan, novel itu juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu. Sang ayah Cuma sempat mengetahui tulisan Fuadi dimuat di koran Gala Bandung, sebuah artikel. Dalam perjalanan hidupnya, Fuadi mengaku sangat banyak terinspirasi dari Amak. Bahkan cara bersikap dan melihat suatu persoalan, ia cendrung memakai kacamata Amak. Amak dikenal sangat idealis. Selama sekolah, saya selalu memiliki nilai bagus, Tapi dalam rapor saya pernah ada nilai merah angka 5 untuk pelajaran kesenian ketika kelas I SD. Gurunya kala itu Amak. Bayangkan, seorang ibu memberi nilai merah di rapor anaknya. Alasannya, karena si anak tidak mau ke depan kelas mempraktekkan lagu. Itulah konsekwensi dari murid yang tidak menurut. Selama sekolah, itulah satu-satunya nilai merah saya, ujar istri dari Danya Dewanti ini. Idealisme ibunya tak bisa ditawar-tawar. Ia bahkan rela dikucilkan demi idealism itu. Dulu ketika menjadi guru, ibu dan sejumlah guru lain mendapat kuliah tambahan. Karena kuliah sambil mengajar, waktu bagi mereka tak begitu banyak. Makanya waktu ujian kuliah, para guru itu ditawari beli soal. Semua guru lain cendrung memilih beli soal karena tak semat belajar. Tapi Ibunya tidak mau. Alhasil, ia dikucilkan oleh yang lainnya. Kemudian apa yang terjadi? Ibunya adalah satu-satunya yang lulus, itupun dengan nilai C. Sementara teman guru lainnya tidak lulus, lantaraan salah beli kunci. Jadi kekerasan hati seperti itu karena idealisme, Amak siap tidak populer dan dijauhi orang atau dikucilkan. Dan itulah yang ditanamkan Amak kepada anak-anaknya. Membentuk Komunitas Menara Saat ini nama Fuadi sudah tercata dalam peta kepenulisan di Indonesia. Karyanya N5M menjadi best seller, sudah difilmkan. Novel keduanya Ranah 3 Warna dari trilogi yang direncanakan, sudah dipublish. Setidaknya, apa yang diinginkan dari hadist seperti pesan kiyainya agar bermanfaat lebih banyak, sudah ia implementasikan. Namun Fuadi tak hanya duduk diam setelah mengimplementaasikan kepada novel-novel karyanya. Selain terus menulis ia mengemban misi sosial lain dalam cakupan lebih luas. Dari royalty buku dan film, saya menyisihkan sebagian untuk yayasan. Kami membentuk komunitas menara untuk membantu orang tidak mampu ditingkat pra sekolah. Karakter mereka dibina dalam kedisiplinan, ketertiban dan kebersamaan sejak dini. Makanya dari royalty buku dan film ada bagian dar isitu. Saya bilang pada pembaca dan penonton film kami, anda adalah bagian dari kami donator yayasan kami karena ada bagian dr itu , urainya. Kenapa memilih pra sekolah? Pengalaman pribadi dari orang tua dan lingkungan keluarga besarnya yang menurut Fuadi banyak mempengaruhi karakternya mulai kanak-kanak, ia sangat sadar bahwa pembentukan karakter seseorang dimulai sejak dini. Dalam beberapa penelitian, karakter seorang anak terbentuk sejak usia 0 hingga 6 tahun. Makanya, dalam misi sosialnya, Fuadi mencoba membangun karakter itu dalam usia pra sekolah. Memang benar, mau membantu pendidikan, artiannya sangatlah luas. Perguruan tinggi, katanya juga pendidikan. Disamping alasan pengalaman pribadi itu tadi, ia juga sampai pada kesimpulan bahwa bantuan pendidikan bagi tingkatan lain sudah banyak. Di Indonesia sekarang, tengah terjadi krisis dalam hal karakter. Dia bisa saja seorang dokter tapi bisa juga puisi. Ada gabungan kemampuan kognitif otak dengan etika dan karakter. Karakter mulai dibangun di usia pra sekolah. Intinya, kita cuci dan bersihkan otak mereka dalam usia pra sekolah. Sasarannya, 30 tahun ke depan karakternya bisa lebih baik. Lalu siapa yang akan kita bantu? Nah, kita pilih mereka, para orang tua yang mungkin tak sempat menyekolahkan anak mereka karena berbagai alasan, misalnya orang tuanya pedagang asongan, satpam, tukang cuci, pemulung atau kelompok tak mampu lainnya. Setelah setahun, karena sekolah ini hadirnya bersamaan dengan novelnya, ia sudah membina lebih kurang 36 anak. Mereka dibina bersama guru-guru, relawan dengan lingkungan yang nyaman untuk perkembangan karakter mereka dilengkapi taman baca. Sekarang baru ada di satu tempat. Rencananya, ia dan istrinya akan mengembangkannya di seluruh Indonesia. Orang tidak mampu kan tak hanya di Jakarta. Inginnya 1000, semuanya gratis. Jangka panjangnya, kita juga akan menyentuh pendidikan SD tetap bagi keluarga tak mampu. Kita sedang mencari mekanisme membantu mereka apakah pakai orang tua asuh. Segratis gratisnya sekolah, tetap perlu biaya. Sekarang kami memikirkan adanya seperti kursus bagi tingkatan SD. Jika sudah masuk SD, nanti sore kita buat kursus tambahan bagi mereka. Kita ingin mereka pandai, ulasnya. (nita indrawati)