Syariah Sangat Cocok dengan Struktur dan Budaya Kita

padangmedia.com , Jumat, 19 November 2010 00:00 wib

Pertama kali ketika ditugaskan ke Sumatera Barat memimpin Bank Indonesia, Romeo Rissal sangat senang. Karena sudah lama ia ingin mengabdi di kampung halamannya. Meski ketika bertugas di Jakarta tahun 1996 ia sudah menjadi konsultan bagi Bank Pembangunan Daerah Sumatera Barat, tetapi menurutnya kerjanya itu masih belum terlihat jelas. Sebagai konsultan, ia merasa belum terlibat langsung dengan masyarakat di kampungnya. Makanya, ia begitu antusias ketika diminta mengurus dunia perbankan Sumatera Barat. Pertama yang ada dalam gagasannya saat ditempatkan di Ranah Minang adalah bagaimana mendorong pelaku usaha dan dunia perbankan di Sumbar berpikir syariah. Menurut Romeo, dari hasil pantauannya di lapangan, ternyata pola syariah sangat sesuai dengan struktur dan budaya kita. “Saya cermati di lapangan ternyata sangat cocok dengan struktur dan budaya kita, Itu waktu saya bertugas di Sumut. Waktu sampai disini, tidak begitu sulit, Sumbar cocok sekali. Ternyata benar. Setelah kami dorong, sejak saya kesini setahun lalu, targetnya malah melebihi target naasional. Perakhir 2010, targetnya secara nasional 5 persen dari asset perbankan Indonesia. Tapi nasional tidak tercapai, Di Sumbar malah 5,2 persen ,” jelasnya kepada padangmedia.com. Memang, diakui pria lulusan pasca sarjana George Washington University tahun 88 ini, perkembangannya di sini sangat kecil. Misalnya saja, di Bank Nagari Sumbar, sejak masuk syariah, hanya 62 Miliar Rupiah. Bila dibandingkan dengan di Medan, jumlah sebesar itu baru dari satu rekening. “Di Medan, sebanyak itu hanya satu rekening. Disini satu bank. Gila nggak tu? Sedangkan BRI hanya 12 Miliar. Jadi kita harus menjual lebih gencar dan mensosialisasikan syariah lebih intens,” sebutnya. Selama ini, dikatakan Romeo, sosialisasi syariah masih belum tepat. Sering terdengar syariah itu anti bunga, tak ada riba. Padahal sesuai dengan hasil studi Universitas Andalas Padang, ternyata hanya 18,9 persen masyarakat disini yang mempersoalkan bunga. Jadi dengan menjual anti bunga, tak ada riba, adalah tidak tepat. “Orang sini tidak masalah, Hamper 90 persen tak masalah soal bunga. Jadi disini yang dijual adalah keunggulan lain agar berhasil. Makanya saya beberapa kali nmya seperti pola di Jawa. Ada promosinya yang berbunyi seperti ini, “sucikanlah uang anda, masukkan di Muamalat . Di Sumbar tidak bisa seperti itu. Yang perlu kita kasih tahu, ini lo syariah. Orang sumbar sangat rasional. Kalau kita gunakan anti bunga anti riba, itu emosional, keagamaan. Di sumbar tidak. Mereka tidak peduli lagi. Begitulah yang kami coba disamping menyiapkan tenaga kerja dan SDM nya. Di Bank nagari misalnya, kami yang melatih SDM nya,” papar Romeo. Pengalaman pertama mensosialisasikan syariah, Romeo tampil ceramah di Universitas Negeri Padang (UNP) dihadapan mahasiswa S2 tahun 2009 lalu. Saat itu ada mahasiswa yang mengkritik, katanya bank syariah itu musang berbulu ayam. Karena didengungkan anti bunga, tapi ternyata tak bedanya dengan bank konvensional lainnya. Memang, menurut Romeo, masih banyak kendala dan kesulitan untuk hal ini. Ketika orang mau meminjam di bank, pasti orang nanya pertama kali, kira-kira ekuivalen bunga nya berapa. Tetap saja itu yang ditanyakan. Makanya sosialisasi syariah lebih banyak ia gunakan contoh-contoh pada usaha riil di lapangan. Setiap ada kesempatan, Romeo selalu mensosialisasikan syariah. Meski perlahan-lahan, ia merasa sudah mulai kelihatan hasilnya. Dari 109 BPR yang ada di sumbar, sudah ada 6 syariah. Ia menargetkan seluruhnya syariah tak kecuali bank aasing yang beroperasi di Sumbar. “Makanya Bank Nagari syariah kita genjot dulu supaya jadi bagus. Kalau sudah bagus nanti yang lain akan ikut dan lebih mudah. Bank Mubarakah sudah menghubungi saya. Nantilah setelah Bank Nagari bagus maka kita akan penuhi. Yang penting ketika dia beroperasi di Sumbar, otomatis pola berpikir itu adalah syariah. Kenapa? Karena masyarakat Sumatera barat mempunyai filosofi, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS SBK). Adatnya saja sudah syariah, apalagi ekonominya. Saya bilang pada mereka, Anda boleh konvensional, tapi karena beroperasi di Sumbar maka rohnya itu ekonomi syariah. Makanya saya bertekad untuk mensyariahkan Sumbar. Saya lakukan pelatihan berkeliling di daerah-daerah Sumbar. Mudah2an menjelang akhir tahun sudah selesai pelatihan dan kita sudah bisa melihat hasilnya,” jelas Romeo yang sudah masuk ke seluruh kampong di Sumbar kecuali mentawai untuk menjual produk syariahnya itu. Kembali menyinggung Bank Nagari, bank pertama yang digerakkannya ke syariah, Romeo mengakui tidak begitu masalah. Pada langkah awal, ia langsung menargetkan 360 persen. Romeo berpikir waktu itu mereka akan berteriak, ternyata tidak. Bahkan target itu tercapai pada 2010. Dari Agustus 2009, awalnya 62,5 miliar, pada tahun ini sudah lebih dari 200 miliar rupiah. Kinerja Direksi cukup bagus. Ada tiga syariah yang bagus di Sumbar yaitu Bank Syariah Nagari, BRI Syariah yang awalnya 12 M sekarang 97 M. Kemudian bank Bukopin Syariah. Sementara syariah yang lainnya masih rata-rata air. Berbeda dengan di Sumut. Romeo mulai bertugas tahun 2006 di Sumut. Ia melihat banyaknya asset perbankan sekitar 90 Triliun, tetapi hanya 15 persen yang sampai menyentuh rakyat bawah. Romeo mulai berpikir, “jadi bank ini untuk apa dan siapa?” Ia melihat data bahwa bank itu untuk orang kaya sebesar 14,7 persen dari 90 triliun. Sementara kenyataan lain, ia melihat Bank Syariah hanya 1,27 persen. Dari jumlah itu hamper 100 persen untuk masyarakat kecil dan semuanya adalah untuk usaha produktif. “Dari data itu, saya mulai berpikir dan mencari caranya. Ternyata syariah itu memang untuk masyarakat kecil. Dari 1,27 persen pada tahun 2006 sampai 2007 menjadi 2,6 persen. Setelah itu sampai pertengahan 2009 bisa mencapai 4 persen,” katanya. Mulanya memang banyak kendala dan kesulitan, tetapi kemudian semuanya bisa teratasi. Romeo memiliki kiat dengan mendekati pengusaha besar di Medan, Pardede. Romeo memberikan pemahaman dan ceramah tentang syariah di rumah Pardede , 15 januari 2007, selama 2 jam. Keesokan harinya Pardede langsung setuju ingin bergabung dengan membuka rekening syariah di BTN Syariah. Saat membuka rekening itu, Romeo dan Pardede diabadikan oleh media dan foto Peristiwa itu telah menjadi imej dan membuat banyak orang terutama pengusaha menjadi ikut membuka rekening syariah. Selain itu, Romeo terus berusaha memberikan penjelasan . “Yang paling adalah, jangan menonjolkan syariah itu karena anti bunga. Itu menurut saya adalah kerancuan berpikir dan sebuah kesalahan bankir2 ekonom syariah memasarkan produknya. Bahwa syariah itu tidak pakai bunga iya, tapi jangan itu yang ditonjolkan. Saya ubah di Medan dan disini, bahwa bank syariah itu focus dalam membangun kesejahteraan umat. Kedua, dalam pelaksanaannya ia lebih mengutamakan aspek keadilan dan keterbukaan. Ternyata dengan pola itu responnya luar biasa,” jelasnya. Dalam memasarkan produk perbankan, memang diperlukan strategi agar berhasil sampai ke sasaran. Itulah kepiawaian Romeo. Seperti tadi dicontohkannya, bahwa syariah memang benar bagi hasil, bukan bunga. Jadi bagi masyarakat yang tidak mementingkan bunga seperti di Sumbar, jangan keunggulan itu yang dijual. Mestinya dicari keunggulan lainnya. Romeo memberikan analogi seperti orang Padang yang datang ke Jawa pada tahun 50-an. Mereka memasarkan masakan Padang karena pedesnya. Bagi orang jawa begitu mendengar pedas, sebelum masuk restorann ia sudah sakit perut duluan. Karena dia suka manis. “Pedeskah restoran Padang ya. Tapi jangan itu yang dijual. Apa yang bisa dijual? Misalnya ini lo masakan Padang, proteinnya tinggi karena ikan dan laut semua dan cepat saji. Kalau ke restoran Padang, duduk sebentar dan langsung makanan datang. Pelayanannya mudah, bisa diantar dengan bungkus. Di jawa tidak ada itu. Yang dibungkus di Jawa itu pecel. Bukan nasi. Nah, begitulah kira-kira strategi menjualnya. Selama ini banker Sumbar kan menjual pedesnya itu,?” ulasnya. Selain focus pada Bank Nagari dan syariahnya, Romeo juga tengah mempersiapkan Bank Nagari menjadi BPD terbaik di luar Jawa. Persiapan itu sebenarnya sudah dirancang jauh hari, dan akan segera difinalkan. Ia menilai setelah mencapai target 360 persen pada tahun 2010 untuk syariah dengan total asset lebih dari 200 Miliar, Romeo juga mengenjot untuk UKM. Bila sebelumnya 20 persen dari total asset yang digunakan untuk usaha produktif, ia menargetkan 35 persen pada tahun ini dan akan mencapai 50 persen pada tahun 2011. Pencapaian target-target di Bank nagari itu, kata Romeo banyak didukung pihaknya melalui kerjasama dengan merancang program bersama. Kemudia ia juga membantu pelatihan dan produksi serta proyek-proyek. “Makanya saya sangat berharap pada calon komisaris yang akan dating adalah orang yang betul-betul paham dengan pengembangan perbankan. Tidak hanya bantu-bantu saja sebagai komisaris. Dari 8 orang komisaris, kita sedang pelajari. Tidak masanya lagi komisaris sebagai jabatan tambahan bagi orang2 yang tidak paham dengan perbankan. Karena jika bank berhasil yang untung pertama adalah pemda dari deviden, kemudian masyarakat dan Sumatera Barat,” tambahnya. Ternyata, Romeo terlibat dalam usaha pengembangan Bank nagari tidak hanya saat ini. Ia pernah menjabat sebagai konsultan BPD tahun 1996. Direkturnya kala itu Suharman. Dialah yanag membawa bank ini merantau ke Jakarta, membuka cabang di Jakarta. Mulai dari studi kelayakannnya, sampai merancang lokasi bersama Dirutynya sampai pada hal-hal melatih pegawainya. Karena Bank Nagari sudah pergi merantau ke Jakarta dan Bandung, bukanlah tidak mungkin perusahaan daerah ini juga bisa merantau ke negeri jiran. Jika itu benar terjadi, maka dialah BPD pertama yang merantau ke Malaysia. “Tema kita tetap sama dengan tema yang saya bawa tahun 1996. Menjangkau pitih di rantau. Tahun 2010 bisa saja rantaunya rantau sebrang, Malaysia. Setiap hari ratusan orang dari Malaysia ke Padang, Bukittinggi dan Pekanbaru. Sementara mereka membawa rupiah dari sana. Gara-gara orang Malaysia banyak memakai rupiahlah maka rupiah diseludupkan ke Malaysia. Saya pikir Bank Nagari berperan. Kalau 1996 pertama dan satu-satunya merantau ke luar propinsi maka kita juga harapkan BPD pertama dan satu-satunya yang merantau ke luar negeri. Orang Minang kan suko merantau,” ucapnya. Romeo optimis dalam hal itu. Bila pada tahun 1996, sebagai konsultan BPD dan menetap di Jakarta, ia sudah berhasil membawa BPD ke Jakarta. Sedangkan sekarang yang sudah menetap di Padang, memiliki power penuh sebagai pimpinan Bank Indonesia dan merupakan kampung halaman sendiri, akan lebih mudah baginya. Diakui Romeo, dalam operasionalnya BPD masih banyak dipergunakan PNS untuk konsumtif. Sebagai contoh di Jambi, yang masih dalam wilayah binaannya, Romeo menemukan 97 persen kreditnya untuk pegawai yang dianggap tidak beresiko. “BPD itu penyakitnya di Indonesa kreditnya konsumtif. Yang terparah, wilayah dibawah kita, Pekanbaru, Jambi, Sumbar. Di Jambi 97 persen koperasi. Karena dengan pegawai, tidak ada resiko. Kita di Sumbar tahun sekarang 65 persen. Saya targetkan Bank Nagari Sumbar tahun depan hanya tinggal 50 persen dengan kredit produktif. Saya pikir mereka bisa. Dia satu2nya BPD di Indonesia, mungkin HO bermotor, tak ada satupun di Indonesia. Mereka jemput bola ke lapangan, dan banyak perubahan dan perkembangannya,” tuturnya. Setelah getol mengembangkan syariah dalam setahun, pada 2011 Romeo mempunyai gagasan dan merupakan terobosan baru yaitu mendorong sistim sirkah. Program ini sudah dimulan pada akhir Oktober di Pasir kandang. Polanya masih berupa kelompok . Bila sistim sebelumnya yang dikenal kelompok sejenis, misalnya tukang keripik dengan tukang keripik atau tukang jagung sama tukang jagung juga. Tapi untuk sirkah tetap pola berkelompok tetapi saling mendukung satu sama lainnya. Misalnya ada anak muda yang bisa membibitkan lele sangkuriang. Ia melihat sangkuriang ini mortalitasnya rendah dibanding lele jumbo. Dia menyediakan teknologi untuk membuat kolam pembesaran itu. “Ini bagus sekali. Biayanya 700 ribu, Biasanya orang membesarkan itu dengan tembok yang 15 senti supaya jangan bocor, biayanya sekian juta. Bibit dari dia, dia kasih tempat . Bibit satu ekornya 175. Tidak mahal. Dia juga menyediakan pakan. Setelah dibesarkan dibelinya lagi dan dijadikan lele asam. Ini yang dinamakan sirkah. Jadi si pembesar didukung si pembibit, si pembeli didukung oleh si pembesar sehingga istilahnya sirkah itu 2 tambah 2 bukan 4 tapi bisa 8,” terangnya. Kenapa bisa jadi delapan? Karena ketika lele dibikin sendiri hanya 16 ribu sekilo. Kalau sudah menjadi lele asap menjadi 66 ribu ribu perkilo. Ada nilai tambahnya sekian kali lipat. Nah, Inilah yang namanya Sirkah. Jadi 2 tambah 2 bisa jadi 6 atau 8. Program itulah yang tengah dicoba ayah dua anak ini, ia tengah membentuk sirkah sapi di Payakumbuh. “Kita akan berkeliling memacu ini dan akhir tahun kita akan lombakan BPR mana yang sirkahnya bagus. Kita ajak media kerjasama. Dengan kriteria, nilai tambah yang dia ciptakan, bertambah bagus ndak bisnisnya. Kemudian teknologi yang ia gunakan dan ketiga penguasaan pasar. Kelemahan orang Padang ini bisa bikin tapi tidak bisa menjual,”. Selama di Sumbar, pria kelahiran 19 April ini mengaku banyak ide yang muncul untuk dikerjakan. “karena makannya disini jeroan dan jengkol muda,” cetusnya. Gagasan lain untuk peningkatan ekonomi masyarakat di Sumatera Barat, Romeo juga mengurusi beras Sumbar yang sangat terkenal karena kualitasnya. Ia bahkan telah membuat koperasi Syariah Mart kompleks kantor Bank Indonesia. Ada lima lokasi di Sumatera Barat yang akan dibuatnya dengan model serupa. “Mulai Desember nanti wartawan beli beras disini. Syariah Mart, bareh solok - anak daro, Syariah Mart, bareh ampek angkek- randah tinggi, Syariah mart, bareh kamang- kuriak kusuik. Ini semuanya beras kebanggaan Sumbar. Kalau tidak kita jaga akan dihabiskan oleh hybrid yang milik cukong dari Jakarta itu. Saya sudah bicara dengan Gubernur agar berhati-hati. Sebab cukong itu menggunakan ahli pemasarannya mantan Menteri Pertanian. Saya ngomong tetus terang dengan Pak gubernur. Nanti bapak akan dihubungai dia, dipaksakan hybridanya disini disogok kadisnya. Untuk kadis dia kasih bibit 5 ribu perkilo. Disini ada 104 ribu hektar tanah sawah. Kalau dikuasai oleh dia. Dia jual sekilo 35 ribu, dan 5 ribu untuk perantara kadis. Padahal bibit kita 14 ribu,” ulasnya. Namun, sebut Romeo, yang besar bagi si cukang sebenarnya bukan jual pupuk. Tapi setelah itu ia akan jual pestisida. Romeo sangat tidak rela rakyat sumbar dijadikan pekerja oleh konglomerat seperti ini. “Makanya kukejar beras ini. Kita harus menghidupkan petani kita. Cuma sayangnya dikampung ini mencetak plastiknya atau kantungnya belum bisa. Makanya kucetak ke Medan,” ucapnya seraya tertawa. Itulah khasnya Romeo. (nita/atvi)