Lomba Tari Pasambahan

Ketika Siriah di Carano Baganti Gulo-Gulo

padangmedia.com , Sabtu, 01 Juni 2013 19:45 wib

Ilustrasi Carano. Sumber: Google

Jiwa serasa disegarkan kembali saat menyaksikan rang mudo Ranah Minang, menarikan Tari Pasambahan di Galanggang Silieh Baganti, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Padang, Sabtu (1/6).

Dengan lincah, rang mudo Minang yang terdiri dari peserta Lomba Tari Pasambahan pada Festival Siti Nurbaya III, menari di atas panggung mengikuti rentak gendang tambur dan tingkahan irama talempong, diiringi siul pupuik serunai, serta bansi yang menggetarkan hati. Harmonisai dari seperangkat alat musik tradisional Minangkabau dimainkan dengan cekatan oleh pemusik yang merupakan bagian dari peserta.

Bermacam pola gerakan yang bersumber dari gerakan pencak silat Minangkabau, ditarikan dengan gagah oleh para penari putra, serta gerakan indah dan gemulai disajikan penari putri nan rancak dalam balutan busana khas anak daro lengkap dengan suntiang nan kuniang ameh. Tarian khas Minangkabau yang jauh dari kesan erotis, meski ditarikan oleh perempuan.

“Condong mato ka nan rancak, condong salero ka nan lamak. Begitulah kira-kira kesenian itu. Serasa ingin pula badan ini ikut menari,” ujar Mardanis, yang menjadi salah satu juri pada lomba tersebut.

Mardanis yang pernah menjadi penari Minang pada era 70-an ini mengungkapkan, kesenian di Ranah Minang saat ini terus mengalami perkembangan. Ia mencontohkan, seperti alat musik yang digunakan salah satu peserta lomba, dimana ada perpaduan antara alat musik tradisional dengan alat musik modern seperti drum dan gitar bass elektrik. Namun tetap musik yang mesti ditonjolkan adalah irama dari alat musik tradisional Minangkabau, yakni talempong, pupuik sarunai, juga bansi.

“Sama halnya dengan cara adinda berjilbab, yang dulunya hanya selendang, kemudian mulai bervariasi. Begitu juga perkembangan seni. Meskipun tadi ada peserta yang memadukan alat musik tradisional dengan alat musik modern, yang penting irama yang dihasilkan dari alat musik tradisional Minangkabau tidak hilang, karena itulah identitas kita. Dengan hanya mendengarkan musiknya saja, orang-orang akan bisa menebak ini adalah Minangkabau,” ujarnya kepada padangmedia.com, di sela-sela acara.

Dari sekian banyak hal yang dinilai pada tiap-tiap penampilan peserta, Mardanis menekankan, kelengkapan isi carano menjadi bagian penting yang cukup menentukan dalam penilaian. Itulah sebabnya, ketika si pembawa carano mendatangi setiap juri, kelengkapan isi carano akan diperiksa dengan teliti. Mardanis memaparkan, dari beberapa peserta ada yang menggantikan sirih dengan permen atau gulo-gulo. Hal ini menandakan nilai-nilai yang terkandung dalam adat mulai ditinggalkan.

“Tadi ada peserta yang menyuguhkan gulo-gulo dalam caranonya. Ini bukan adat kita. Carano mestinya berisi siriah langkok dengan pinang, gambia, sadah, serta tembakau. Ini pertanda jalan sudah dialiah urang lalu,” jelasnya.

Lebih lanjut lagi, Mardanis juga mengkritisi tradisi masyarakat Minang yang telah mengalami pergeseran dalam hal cara mengundang orang untuk datang ke acara baralek. Dulunya menggunakan siriah dan pinang sebagai lambang formalitas dalam interaksi masyarakat Minangkabau, sekarang telah beralih kepada permen. Menurutnya, ada nilai-nilai yang tak dapat digantikan oleh sebutir permen dalam mengundang orang untuk datang ke pesta perkawinan di Minangkabau.

“Siriah dan pinang, atau pada situasi tertentu bisa juga digantikan dengan rokok, mempunyai makna pemberitahuan bahwasanya akan ada upacara adat, termasuk upacara perkawinan. Ini tentu saja tak bisa digantikan dengan sebutir permen. Akan terasa berbeda ketika kita diundang dengan permen atau suguhan siriah langkok,” ungkap Mardanis yang merupakan mahasiswa angkatan pertama pada Jurusan Sendratasik UNP ini.

Meskipun demikian, melihat antusiasme para generasi muda dalam mengikuti lomba kesenian tradisional Minangkabau ini cukup membuat bangga. Setidaknya mereka akan belajar dan memahami kembali nilai-nilai budaya Minangkabau sebagai identitas asli mereka. Selama bumi terkembang, budaya tidak akan hilang. Tentu saja, di pundak generasi muda-lah sako jo pusako adaik akan diwariskan untuk dijaga dan dipelihara nilai-nilai luhurnya. (Yeni Purnama Sari)

 

Berita Terkait