Kenangan Terakhir Nabila di Mata Keluarga dan Sahabat

padangmedia.com , Selasa, 07 Mei 2013 06:28 wib

(almh) Rusyda Nabila

Almarhumah Rusyda Nabila atau Bila, 16, gadis jolong gadang yang dibunuh kenalan facebooknya telah tenang di alam sana. Setelah gundah gulana keluarga sejak 20 Maret 2013 sang anak tak pulang-pulang, akhirnya ditemukan meski dalam kondisi tak bernyawa dan sudah tertanam dalam tanah.

Setelah sepekan jasadnya dikuburkan, duka keluarga masih belum hilang. Keluarga hingga kinipun tak habis pikir kenapa pelaku Wisnu Sadewa, 27, alias Brekele tega membunuh anak mereka yang tak berdosa dan tak kenal dengan pelaku sebelumnya.

Di mata keluarga maupun tetangga dan teman, anak pertama pasangan Khairis Munaf dan Nelinda itu dikenal sebagai sosok anak yang santun dan baik. Siswi Pondok Pesantren (Ponpes) Diniyah V Jurai Sungai Pua Kabupaten Agam itu dalam kesehariannya juga diketahui rajin menolong orang tua.

“Bila anak yang baik dan rajin menolong orang tua. Heran, kenapa orang tega membunuhnya dengan cara keji seperti itu,” kata Aulia, salah seorang tetangganya kepada padangmedia.com, kemarin.

Dalam pergaulan, menurutnya, Nabila memang tidak terlalu banyak memiliki teman. Selain pendiam, ia juga sibuk dengan pelajaran dan mengerjakan tugas-tugas sekolah. Tak heran bila gadis itu selalu mendapat peringkat 10 besar. Bila juga sangat aktif dalam berbagai kegiatan ekstra kurikuler di sekolah dan jarang ke luar rumah jika tidak ada kegiatan penting di sekolah.

Hal yang sama dituturkan salah seorang sahabatnya, Adek. Menurutnya, di sekolah Nabila dikenal sebagai salah seorang siswi yang baik dan selalu menyapa, walau terkadang dia lebih banyak diam.

"Nabila itu orangnya rajin belajar dan suka membantu. Dia juga aktif dalam kegiatan ekstrakulikuler," ceritanya.

Emi, tetangga korban yang lain menuturkan, sebelum diketahui menghilang, Nabila sempat membeli minuman di warungnya. Saat itu, ia bertiga dengan teman akrabnya, Adek dan Eka.

“Minggu sore itu, dia membeli pop ice di warung saya dengan dua temannya. Mereka kemudian duduk di pekarangan rumahnya sembil berseloroh," katanya.

Saat Nabila menghilang dari rumah pada 20 Maret 2013 lalu, sang ayah, Khairis Munaf, cemas tak terkatakan. Apalagi, selama ini tidak ada pertengkaran di dalam kehidupan rumah tangganya, sehingga tidak mungkin Bila menghilangkan diri karena sakit hati kepada orangtuanya.

Begitu juga kemungkinan hilang karena dilarikan pacar juga dinilai tidak mungkin. Setahu Khairis, anak pertamanya itu tidak memiliki pacar.

Terakhir, saat meninggalkan rumah di Jorong V Suku Jalan Raya Ateh Lubuk Nagari Sungai Pua, Bila yang berparas cantik dan berkulit kuning langsat dengan tinggi 156 meter dan berat 49 kilogram itu mengenakan jilbab warna hitam, baju kaos lengan panjang warna hijau lumut, celana jeans warna biru, serta memakai sandal merek Eiger warna hitam.

Kepada padangmedia.com, Khairis menceritakan, pada Rabu 20 Maret 2013, Bila pulang sekolah sekitar pukul 16.30 WIB. Sekitar pukul 17.30 WIB, Bila ke luar rumah tanpa minta izin kepada kedua orangtuanya. Salah seorang tetangga waktu itu sempat melihat Bila naik angkot jurusan Sungai Pua-Simpang Stasiun Bukittinggi.

"Sebelum pergi, Nabila sempat membantu ibunya mengisi air di rumah. Setelah itu, dia memintaizin ingin keluar sebentar dan diberi uang oleh ibunya," kata Khairis.

Namun, hingga malam harinya, Nabila tak kunjung pulang ke rumah. Seluruh keluargapun merasa cemas. Bahkan keesokan harinya karena belum pulang juga, gadis itu dicari warga sekampung.

Tak hanya sampai disitu, usaha Khairis sang ayah tak surut dalam mencari putri kesayangannya. Dibantu oleh rekan dan kenalannya, Khairis terus berusaha siang dan malam. Untuk membantu mencari anaknya, Khairis melaporkan anaknya yang hilang ke kantor Polresta Bukittinggi pada Sabtu, 23 Maret 2013. Ia juga menceritakan perihal kehilangan anaknya kepada pers yang ada di Bukittinggi.

Sampai akhirnya kabar menghilangnya Nabila terkuak, seiring dengan ditangkapnya tersangka Wisnu oleh pihak kepolisian pada Senin (29/4) malam. Dari keterangan tersangka, jasad Nabila digali dari dalam anah dengan kedalaman 60 hingga 80 centimeter di Jorong Dalam Koto, Nagari Pakan Sinayan, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam.

Wakapolres Kota Bukittinggi, Arif Budiman sebelumnya mengatakan, motif tersangka Wisnu membunuh korban adalah ingin mencuri harta milik korban berupa satu unit handphone dan uang tiga ribu rupiah. Tidak sampai di situ, korban juga diperkosa. Setelah itu, korban ditusuk di bagian leher dan diikat tangan dan kakinya. Setelah tewas, korban dikubur di daerah persawahan di Jorong Dalam Koto, Nagari Pakan Sinayan Kecamatan Banuhampu.

Menurut Arief Budiman, kejadian berawal ketika korban memiliki seorang teman perempuan dari jejaring sosial facebook yang ternyata profilnya palsu. Pada 20 Maret 2013, tersangka mengajak Nabila bertemu di kawasan Pasar Padanglua dan menyuruh korban datang ke rumahnya di Pakan Sinayan dengan menggunakan ojek.

"Setelah korban bertemu dengan tersangka, korban kembali didustai kalau profil tersebut milik adik tersangka," kata Arief menjelaskan. Sesampainya di rumah tersangka, korban malah merampas satu unit handphone dan uang tiga ribu rupiah milik korban. Karena melawan, korban ditusuk di bagian leher hingga tewas. Setelah korban tewas, tangan dan kaki korban diikat lalu dikubur di sawah.

Selain Nabila, tersangka juga menghabisi nyawa Novrida Yanti (23), anak pasangan Afrizal (52) dengan Nelfadelfira (44) yang dilaporkan hilang sejak 3 Februari 2013. Jasad warga Batu Kambiang, Lubuk Basung, Kabupaten Agam itu ditemukan sudah menjadi tulang belulang 500 meter dari jalan raya di Banda Munggu, Jorong Gantiang, Nagari Koto Gadang, Kecamatan Ampek Koto, Kabupaten Agam, Rabu 1/5) siang. (farsi)

 

Berita Terkait