Terbetik

Dianggap Penyanyi Malaysia, Sultan Tetaplah Pariaman

padangmedia.com , Sabtu, 23 Februari 2013 13:59 wib

Sultan

Terlahir dari keluarga sederhana di desa Kampani Barangan, Pariaman Sumatera Barat sekitar 34 tahun silam. Ia diberi nama Sultan oleh ayahnya yang seorang siak (alim), dengan harapan ia akan sebesar nama itu. Yaitu, memiliki jiwa pemimpin, setidaknya memimpin diri sendiri. Begitu harapan sang ayah.

Sayang, Sultan kecil yang masih tiga tahun waktu itu ditinggal wafat bunda tercinta. Sepeninggal bunda, ayah Sultan yang guru mengaji dan pemain musik gambus membesarkannya seorang diri. Sultan sering dibawa ke surau atau ke tempat beraktivitas lain yang biasa dilakukan ayahnya.

Sultan terbiasa di lingkungan surau dimana ayahnya mengajar mengaji dan memainkan musik gambus. Dari lingkungan surau inilah Sultan mendapatkan sepuhan nilai agama dari dini serta bakat bermusik yang dimilikinya hingga kelak menjadi jalan hidupnya.

Tetapi, kehilangan bunda tetap saja menyisakan nelangsa di hati. Perasaan itu kerap muncul bila Sultan kecil melihat anak sebayanya ditimang dan diperhatikan oleh seseorang berhati lembut yang bisa dipanggil mama, amak, mande atau apapun itu.

Sampai memasuki usia sekolah, Sultan semakin merasakan perasaan kehilangan itu. Sebab,  lagi - lagi tak seperti anak lain yang selalu diperhatikan ibunya, sebelum berangkat sekolah disuapi sarapan, disiapkan pakaian dan buku - buku yang akan dibawa anaknya, bahkan sebagian anak diantarkan ke sekolah.

Kepada padangmedia.com Sultan membeberkan kisah masa kecilnya di Pariaman, berbagai pengalaman ia dapat di 'lapangan' karena sepulang sekolah Sultan lebih banyak bermain.

"Maklaum, Bunda sudah tidak ada. Saya lebih banyak bermain sementara Ayah sibuk dengan aktivitasnya," ungkap Sultan.

Saat duduk di bangku kelas tiga SD, Sultan sudah banyak pergaulan dikalangan orang - orang pasar. Umumnya ia dekat dengan supir - supir angkutan di pasar Pariaman.

"Awak pernah jadi kenek oto (mobil angkutan) Pariaman - Padusunan waktu kelas tigo. Pernah pulo mambantu - bantu urang manggaleh kue di pasa. Sekedar mancari balanjo," ujar Sultan mengenang dan dengan bahasa Minang yang lancar.

Melihat gelagat ini, kerabatnya mengkhwatirkan kalau ia akan terjerumus ke pergaulan yang tak karuan. Sepertinya tak ada lagi yang mengurus Sultan dengan baik di kampung sehingga setiap hari keluyuran di pasar dan sekolahnya juga lebih sering bolos.

Akhirnya Sultan dibawa ke Lampung oleh salah seorang kerabat untuk disekolahkan di sana. Tammat SD, Sultan hijrah ke Jakarta dan melanjutkan SMP disana. Kemudian pindah lagi ke Bandung, melanjutkan SMA dan kuliah pada jurusan musik di Bandung. Sempat juga menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Bahasa Asing.

" Ketika SMA saya bikin band bersama teman - teman. Saya juga sering mengikuti festival - festival, solo maupun band," cetus Sultan.

Menurutnya, mengikuti festival dan 'ngeband' adalah sebagai ajang mengasah bakat dan mendapatkan pengalaman untuk meningkatkan kapasitas bermusiknya.

Di sisi lain, bukan berarti lantas ia menjalani kehidupan yang mulus. Berbagai pekerjaan ia lakoni sambil sekolah, mulai dari membantu - bantu di tempat usaha menjahit pamannya, hingga mencuci piring di rumah makan.

"Berbagai pekerjaan saya jalani, namun tekad bermusik tak pernah lepas," katanya bersemangat.

Sejenak Sultan terdiam, matanya menerawang seperti berusaha mengumpulkan fase - demi fase kehidupan yang dilaluinya. Tampak mimik wajahnya menyiratkan kesungguhan mengenang betapa beratnya kehidupan yang pernah ia lalui, termasuk meniti karir hingga ke pencapaian seperti sekarang.

" Saat SMA band kami sering jadi bintang tamu di acara - acara 17 Agustusan. Setiap diboking hanya dibayar dengan sekedarnya. Maklum, kami hanya band gurem yang belum punya nama dan tak pernah rekaman," ungkapnya.

Ia melanjutkan, zaman itu untuk masuk dapur rekaman sulit. Tidak seperti sekarang yang serba mudah. Tapi, hal itu tak membuat patah semangat. Terus berusaha untuk menembus dapur rekaman dan semua label mau menerima.

"Lepas SMA, tahun 95 wak buek lagu sendiri, judul Permata yang Hilang dan Sebuah Khayalan. Dua lagu ini yang mengantarkan ke label Musica Studio Jakarta, setelah letih berkeliling dari label ke label," tuturnya.

Sejenak terdiam lagi. " Perjuangan wak barek, kanda (perjuangan saya berat)," desahnya sedikit tercenung.

Setelah menarik nafas, Sultan kembali bercerita. Ia mengungkapkan untuk pertama kali kepada padangmedia.com kenapa akhirnya ia lebih dikenal sebagai penyanyi Malaysia, bahkan publik mengenalnya sebagai warganegara negeri jiran itu.

Tahun 1998 Sultan teken kontrak dengan Musica Studio. Masa itu sedang booming lagu - lagu Malay di Tanah Air. Pasar musik Indonesia dirajai oleh artis - artis dari Malaysia, sementara artis  Tanah Air sendiri banyak yang tiarap.

"Nah, wak diseting Musica Studio untuk menandingi arus artis - artis Malaysia tersebut. Ibaratnya wak disusupkan ke sarang artis Malaysia itu. Maka album pertma wak, 'Terpaksa Aku Lakukan' total digarap di Malaysia. Lagu ini terpaksa mengikuti nuansa melayu Malaysia," jelasnya.

Sukses, lagu karya Ajai Exist yang dibawakan Sultan ini menakhlukan pasar tanah air juga di Malaysia sendiri. Albumnya mendapat Platinum Award dan clip menjadi nominasi Anugerah Musik Indonesia. Sultan sendiri akhirnya lebih dikenal publik Tanah Air sebagai penyanyi dari Malaysia.

Bahkan sampai ia menggandeng Ratna Listy untuk single Cinta Adalah Cinta pada Album Cincin di Tangan, sejumlah media massa masih menyebut Sultan sebagai warganegara Malaysia.

Ya, perjuangan panjang dan meletihkan itu akhirnya berbuah manis juga, namun Sultan tetaplah Sultan, pria asal Ranah Minang bersuku Tanjung yang tahu asal usul dan memegang teguh prinsip dan agamanya. Sukses Sultan ! (der)

Berita Terkait