Terbetik

Sebelum Longsor, Nani dan Nana Sudah Ada Firasat

padangmedia.com , Kamis, 31 Januari 2013 19:42 wib

Tatapan sayu mengandung nestapa masih menggantung di mata gadis kembar itu, Nana (21) dan Nani. Kampung yang dulu menjadi tempat tinggal mereka bersama orang tua dan kerabatnya kini telah berubah menjadi hamparan tanah. Sementara di bawah tanah itu rumah panggung layaknya rumah khas minang yang pernah mereka tempati terkubur. Di bawah tanah itu pula kedua orang tua dan saudaranya diangkat dalam keadaan tak bernyawa lagi.

Sembilan dari 20 korban yang tewas tertimbun material longsor di Jorong Data, Nagari Sungai Batang Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam pada Minggu (27/1) lalu adalah keluarganya. .

Sembilan keluarga tersebut, yakni Rosda (55) sang ibu, Asril (58) ayah, Indah (6), Aldi (9), Juliati (26), Erni Astuti (38) dan Kamal (1,5), Rani (8) dan P. Sutan Sinaro (70) kakek.

Saat peristiwa itu terjadi, Nana dan Nani yang mahasiswi ini tengah berada di Bukittinggi. Biasanya mereka pulang ke Sungai Batang pada akhir pekan, namun kali ini tidak bisa karena tengah menghadapi ujian semester.

Menurut Nana, dalam beberapa hari belakangan perasaannya memang tidak enak.  Tapi ia tidak tahu  apakah itu pertanda atau hanya terlarut perasaan lantaran tak bisa pulang ke kampung pada minggu itu.  Anehnya, Nani, kembarannya, juga merasakan hal yang sama. Tapi hal itu tetap menjadi tanda tanya dalam hati mereka, hingga pagi naas itu mereka menerima telfon dari  Feri, abangnya.

Mendengar kabar itu, Nana dan Nani betul-betul terpukul. Musibah longsor yang menimbun belasan rumah termasuk rumah mereka membuat tubuhnya lunglai. Diantara korban longsor itu adalah kedua orang tuanya, ayah dan ibu. Juga kakek dan saudara-saudara mereka. Sebagian besar rumah di kawasan itu, satu sama lainnya masih memiliki hubungan kekerabatan. 

“Kami sangat terpukul saat mendengar kabar itu. Apalagi ayah dan ibu juga menjadi korban.  Kami benar-benar  shock,” kata Nani dengan suara bergetar. Ia tak kuasa menahan air matanya.  Wajahnya menyiratkan kepedihan yang dalam.  Sementara Nana yang berdiri di sampingnya, sempat terisak.  

Kepedihannya semakin dalam saat keduanya sampai di Sungai Batang,  menyaksikan runtuhan longsor yang menimbun rumah mereka. Yang ada hanya batang kayu yang melintang di atas tanah baru dari atas bukit. Puluhan orang dari Tim SAR dan PMI sudah sampai dilokasi tangah berkutat melakukan evakuasi.

"Kami sudah tak ada lagi tempat mengadu. Tempat tinggal juga tak ada. Apalagi kami  berdua juga sedang kuliah. Kami tak tahu bagaimana nasib kami, Pak," kata Nana lirih kepada Bupati.  Kedua gadis yang sudah yatim piatu itu  menyampaikan kegundahan hatinya  kepada orang nomor satu di Agam. Bupati Indra Catri menemui keduanya di posko bencana kampung tersebut.

Melihat kegalauan gadis kembar ini, Bupati mencoba menenangkan,  agar tidak terlalu larut dalam kesedihan. Di tengah perbincangannya bersama Nana dan Nani yang disaksikan belasan warga, Bupati berpesan untuk tidak berputus asa, karena peristiwa itu merupakan pembelajaran bagi manusia.

"Kalian jangan terlalu larut dengan kesedihan. Fokus saja pada kuliah. Soal biaya kuliah, jangan dipikirkan, kami akan membantu kalian sampai tamat nanti,"ujar Bupati.

Segaris keharuan tergurat di wajah Bupati yang dicintai masyarakat Agam ini.

Ia melanjutkan, untuk tempat tinggal pemerintah kabupaten akan mengupayakan anggaran untuk merelokasi. Direncanakan membuat sebuah perumahan di lokasi yang lebih aman bagi warga yang tinggal di lokasi yang rawan longsor.

Nana dan Nani adalah salah satu dari sejumlah orang lainnya yang turut kehilangan orang - orang yang mereka sayangi akibat longsor di Jorong Data Sungai Batang ini. Masih banyak kesedihan, hinggap di hati anak nagari asal tepian Danau Maninjau itu.

Namun, kesedihan akan berkepanjangan bila terus diulas dengan cerita kesedihan lainnya. Setidaknya spirit untuk kembali bangkit terus ditumbuhkan Indra Catri terhadap warganya yang mengalami musibah ini, juga bagi si kembar Nana dan Nani.(der)

 

 

Berita Terkait