Terbetik

Dari Semula Tak Suka Kucing

Dokter Hariadi Justru Pelihara 40 Ekor Kucing Persia

padangmedia.com , Senin, 01 Oktober 2012 16:15 wib

Sebagian kucing persia yang dipelihara Dokter Hariadi. (foto: yen)

Bagi mereka yang memang termasuk pecinta kucing, memelihara satu, dua, atau tiga ekor kucing di rumah merupakan hal yang wajar. Mereka tentu memelihara hewan mungil tersebut dengan senang hati. Namun, bagaimana ceritanya jika orang yang tidak menyukai hewan lucu ini malah memelihara lebih dari 40 ekor? Tentu saja ini menjadi luar biasa. Adalah Dokter Hariadi, yang memelihara lebih dari 40 ekor kucing jenis Persia di halaman belakang rumahnya.

Sekilas tak tampak bahwa pria yang sehari-hari beraktifitas sebagai dokter spesialis kandungan ini memiliki hobi unik memelihara banyak kucing ketika kita melewati rumahnya di Jalan Belanti, depan SMK Adzkia Padang. Namun, jika berkesempatan mampir dan bertandang ke halaman belakang rumahnya, kita akan menemukan dua kandang yang masing-masing berukuran 4x2,5 meter persegi dan 3x2,5 meter persegi, tempat Hariadi memelihara kucing-kucingnya.

Hariadi mengaku, dulunya ia tak pernah suka dengan hewan kesayangan nabi itu. Namun, memperhatikan anak keduanya Sinta, yang dengan sangat mudahnya menjadikan setiap kucing yang ditemui di jalan menjadi penurut dan patuh padanya, Hariadi melihat keistimewaan dalam diri putrinya tersebut. Sejak saat itulah, salah satu dokter  kandungan terkenal di Padang itu memutuskan untuk memelihara kucing. Ia pun membeli seekor kucing jenis Persia dari salah satu toko hewan yang ada di Padang.

“Saya dulunya tak suka kucing. Tapi melihat Putri saya, Sinta yang begitu mudahnya menjadi akrab dengan setiap kucing yang ia temukan di jalan, saya merasa ada sesuatu yang istimewa dalam diri putri kami ini. Sejak saat itulah, saya jadi tertarik memelihara kucing,” cerita Dokter Hariadi kepada padangmedia.com saat berkesempatan mengunjungi rumahnya, Sabtu (29/9).

Pernah suatu kali, cerita Hariadi, ketika berada di Amerika, di apartemennya tiba-tiba saja datang seekor kucing hitam yang berukuran hampir sebesar anjing dibawa oleh Sinta. Ia kaget sekaligus heran, bagaimana putrinya dalam waktu yang singkat sudah akrab bermain dengan kucing milik tetangga itu.

Saat ditanya sejak kapan menyukai kucing, Sinta justru mengaku dulunya takut dengan hewan tersebut. Ketika itu ia masih TK.

“Dulunya sih, Sinta takut sama kucing. Waktu itu, Sinta masih TK. Di sekolah ada kucing. Lalu, teman-teman membujuk supaya tidak takut lagi dengan kucing. Sekarang Sinta malah sayang sama kucing,” aku gadis manis yang sekarang duduk di kelas 3 SMP itu.

Sinta bercita-cita menjadi dokter hewan meskipun sebenarnya Ayahnya Hariadi berharap putrinya menjadi dokter spesialis ataupun dokter umum. Namun, Sinta punya alasan sendiri. Baginya menjadi dokter hewan adalah pekerjaan mulia karena bisa merawat dan mengobati hewan-hewan terlantar.

“Sinta ingin jadi dokter hewan saja, Pa! Dokter manusia kan sudah banyak. Kalau jadi dokter hewan, kita bisa merawat dan mengobati hewan-hewan terlantar. Kan kasihan hewan-hewan itu tidak ada yang merawat,” ujar Sinta suatu kali kepada ayahnya Hariadi, seperti yang diceritakan Hariadi.

Untuk pemeliharaan kucing-kucing tersebut, Hariadi menyediakan dua kandang. Masing-masing untuk kucing betina dan kucing jantan dibuat terpisah. Dua kali sehari kandang dibersihkan. Begitu juga dengan makanan pokok kucing-kucing tersebut diberikan dua kali sehari, ditambah dengan vitamin dan suplemen lainnya agar kucing tetap sehat dan tidak terjangkit virus. Untuk perawatan kesehatan, Hariadi rutin memberikan vaksin kepada kucing-kucing peliharaannya tersebut agar tidak membahayakan.

Setiap hewan memang memiliki tingkah polah unik tersendiri, yang terkadang menjadi sinyal akan adanya fenomena alam yang terjadi. Hariadi menceritakan, sebelum peristiwa gempa yang meluluhlantakan Kota Padang dan sekitarnya pada 30 September tiga tahun lalu, kucing-kucing peliharaannya itu menunjukkan tingkah aneh, seperti menunjukkan adanya firasat sesuatu akan terjadi. Kucing-kucing itu terlihat ketakutan di dalam kandangnya dan berjalan merayap-rayap.

Tak lama kemudian, goncangan 7,9 SR pun melanda Kota Padang. Hariadi dan keluarga berlarian keluar rumah. Tak sempat menyelamatkan kucing-kucingnya karena jumlahnya yang terlalu banyak. Namun, tampak dari kamera CCTV yang ada di halaman belakang, kucing-kucing tersebut melompat-lompat ketakutan. Setelah gempa mulai reda, Hariadi kemudian membuka pintu kandang dan kucing-kucingnya pun berlarian keluar kandang. Hingga suasana mulai tenang, kucing-kucing itu kembali masuk kandang dengan merayap-rayap, seperti masih ketakutan karena gempa yang baru saja terjadi.

Meskipun kucing-kucing jenis Persia peliharaan Hariadi berkembang-biak dengan baik hingga mencapai jumlah cukup banyak, ia bertekad tak akan menjual kucing-kucing tersebut. Hariadi mengaku, ada kebahagiaan batin tersendiri dalam memelihara kucing-kucing tersebut. Melihat tingkah-tingkah unik dari hewan yang senang dimanjakan itu, menjadi penawar lelah setelah sibuk bekerja seharian.

Ada kebiasaan yang membuat Hariadi semakin menyayangi kucing-kucing peliharaannya itu, yakni ketika ia membukakan pintu kandang untuk memberi makan. Kucing-kucing tersebut akan segera berlarian menuju arahnya, lalu mengelus-eluskan badan mengitarinya seolah-olah berterimakasih kepada tuan yang telah merawatnya.

“Ada kebahagiaan batin tersendiri memelihara kucing-kucing ini, melihat tingkah polahnya setidaknya jadi penawar lelah. Apalagi saat saya membukakan pintu kandangnya untuk memberi makan, mereka akan berlarian dan mengelus-eluskan badan kepada saya, seolah-olah berterimakasih,” cerita Suami dari Sandra, Dosen Pertanian Unand ini.

Terkadang, dengan memperhatikan tingkah hewan ciptaan Yang Maha Kuasa, kita dapat belajar sesuatu tentag hidup. Hewan saja punya naluri untuk berterimakasih kepada manusia yang telah memelihara dan berbuat baik kepadanya, kenapa manusia tidak? (Yeni Purnama Sari)

 

 

Berita Terkait