Terbetik

Komentar

Julo-julo Batanam Cara Perempuan Atasi Ketahanan Pangan

padangmedia.com , Jumat, 25 Januari 2013 15:33 wib

Kelompok Sekolah Lapangan berpose bersama Wabup Pd Pariaman usai acara hari temu lapangan petani. (ist)

PADANG PARIAMAN - Sudah dua tahun belakangan, kaum perempuan di Nagari Batu Kalang, Kecamatan Padang Sago, Kabupaten Padang Pariaman giat melaksanakan julo-julo batanam atau arisan bertanam. Semacam perserikatan perempuan untuk mengatasi dampak kerentanan pangan. Mereka secara berkelompok melakukan penanaman bahan pangan dari rumah ke rumah.

Hal tersebut diungkap Pemandu Sekolah Lapangan Lumbung Pangan Hidup, Kartini N, 63 tahun, pada Hari Temu Lapangan Petani di Batu Kalang, kemarin.

Manurut Kartini, kaum perempuan di nagarinya sudah melaksanakan julo-julo batanam sejak 2011. Pada umumnya, julo-julo dilaksanakan dari rumah ke rumah. Namun, pada hari-hari tertentu, biasanya kelompok julo-julo melakukan gotongroyong di lahan belajar kelompok.

Lahan belajar Kelompok Kartini tersebar di beberapa tempat di nagarinya. Salah satunya di Korong Punco Ruyuang. Lahan ini hanya memiliki luas sekitar 750 meter persegi, namun memiliki jenis tanaman pangan yang beragam. Terlihat berbagai jenis umbi-umbian seperti ubi jalar dan keladi tumbuh subur sebagai tanaman utama, di sela dengan tanaman sayuran, cabe dan bahan bumbu dapur lainnya.

Sebuah kolam yang dibuat dari terpal warna biru berada tepat di pinggir lahan. Kolam ini mampu menampung air hujan yang turun hingga 15 meter kubik. Penampang atasnya dibiarkan terbuka dan dipagari dengan tanaman bunga, sayuran serta rumpun-rumpun pisang. “Biar persediaan air selalu ada,” cetus Kartini.

Selain itu, terdapat pula lahan di Korong Limo Hindu. Dengan luas hanya sekitar 200 meter persegi, lahan tersebut dijadikan tempat belajar bersama kelompok. Di lahan tersebut, kelompok belajar tentang kemampuan tanah menyerap air, kandungan ion bahan organik, pembibitan dan lainnya.

“Kami menyediakan tabung-tabung plastik yang diisi dengan berbagai jenis tanah. Ada jenis tanah yang banyak mengandung kompos, ada juga jenis tanah yang banyak mengandung pasir serta sebagian lagi liat. Secara bersama kami coba memahami bagaimana air masuk kedalam tanah dan menilai tanah mana yang aling cocok untuk menyerap air dan diserap tanaman,” papar Kartini.

Untuk penyimpanan benih, kata Kartini, mereka membuat tempat penyimpanan sederhana seperti toples. Abu dapur dimasukkan pada bagian dasar toples, disusul kemudian dengan lapisan arang lalu bunga tahi ayam kering. Benih diletakkan satu lapis diatas bunga tahi ayam kering. Setelah itu, lapisan pengawet benih tersebut ditutup kembali dengan lapisan bunga tahi ayam kering arang dan abu dapur.

“Biasanya, benih yang diawetkan bisa tahan sampai 3 tahun,” kata Kartini.

Secara teknis, Kartini dan kelompoknya memang perlu mengembangkan diri lebih lanjut. Hal ini dia sadari sebagai proses pembelajaran bersama. Namun, menurutnya, hal penting dari semua itu adalah kekuatan bersama yang tercermin dalam setiap hari pelaksanaan julo-julo.

“Belakangan kami baru sadar dan memahami mengapa tanah tidak perlu dibiarkan terlantar. Selain menjaga agar bahan pangan tersedia, menanam tanah yang terlantar secara berkelompok membuat kami semakin memahami pentingnya berkelompok,” ungkapnya.

Kartini memaparkan, jumlah peserta julo-julo sudah hampir 50 orang dan tersebar di 3 korong: Punco Ruyuang, Kampuang Piliang dan Mangur. Dia bersama kelompok lain saat ini sedang mengagas pengembangan kelompok ini untuk setiap Korong yang ada di nagarinya.

“Kalau pesertanya mencapai 30 orang saja ditiap Korong, setidaknya ada 30 keluarga yang terlibat. Dengan demikian, maka disetiap Korong aka nada 30 keluarga yang tangguh terhadap kerawanan pangan serta memiliki simpanan cadangan makanan ketika bencana datang,” pungkasnya.

Wakil Bupati Padang Pariaman, Drs.H.Damsuar, MM, Dt Nan Putiah yang hadir pada Hari Temu Lapangan Petani tersebut membenarkan pernyataan Kartini. Menurutnya, pengembangan julo-julo akan mampu mengurangi tingkat kebutuhan petani akan bahan pangan yang dipasok dari luar daerah.

Damsuar berharap, kegiatan positif semacam itu dapat didukung oleh pemerintah nagari. “Bila perlu, kami akan memasukkannya kedalam program andalan pemerintah. Kami sangat terbantu dengan program FIELD-Bumi Ceria yang sudah dilaksanakan selama dua tahun belakangan ini. Program ini berdampak positif untuk meningkatkan ketangguhan petani” kata dia.

“Hal ini sangat membantu program Pemerintah Daerah untuk pemerataan ketersediaan pangan di semua tempat. Selain itu, julo-julo batanam perlu dikembangkan di setiap nagari untuk membantu masyarakat menghadapi saat-saat kritis ketika terjadi bencana,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Area Manager FIELD-Bumi Ceria, Madonna mengatakan, ada 3 level ketangguhan yang sudah terbangun. “Setidaknya, sekolah lapangan yang kami laksanakan sudah menjangkau rumah tangga petani, sekolah serta penyedia layanan seperti Puskesmas,” kata Madonna. (rin/rel)

 

 

Berita Terkait