Terbetik
- Musliar Kasim: Kurikulum 2013 Peserta Didik Dituntut ...Sabtu, 25 Mei 2013 17:55 wib
- 165 Anak Kecamatan Barangin Ikuti Katam Al’quranSabtu, 25 Mei 2013 17:08 wib
- Pemko Padang Dukung Warga Kuranji Bangun Gedung Serbaguna ...Sabtu, 25 Mei 2013 16:14 wib
- Panwaslu Kabupaten Solok Lantik Panwas KecamatanSabtu, 25 Mei 2013 13:54 wib
- Dua Mobil Di Bobol Maling Saat Sholat Jum’at Sabtu, 25 Mei 2013 11:18 wib
- Bukittinggi 100 Persen Lulus UN Tingkat SLTASabtu, 25 Mei 2013 10:25 wib
-
Selain Nabila, Wisnu Mengaku Menghabisi Yanti
Bukittinggi – Tulang belulang manusia ditemukan sekitar 500 meter dari jalan raya dalam semak di daerah Banda Munggu, Jorong Gantiang, Nagari ... baca selengkapnya »
Komentar
Ketika Lahan tak Subur lagi
Labu Menjadi Alternatif Kehidupan Matur

Ketika tanah untuk ladang di Matur Kabupaten Agam tidak menjanjikan lagi, banyak masyarakat petani yang tak bisa bertanam. Cabai yang biasanya banyak mendatangkan keuntungan, tak bisa diharapkan lagi. Lahan perladangan berubah tidak subur karena unsur haranya sudah habis oleh pupuk kimia dan bahan pestisida lainnya. Kehidupan petani cabai sungguh memprihatinkan. Kerbau dan sapi yang dimiliki petani habis terjual untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, sedangkan untuk bertani susah diharapkan. Apapun yang ditanam, tak bisa tumbuh subur. Berangkat dari keprihatinan itulah, Yuliana Oriza Satifa, warga Matur, berpikir untuk berinovasi, memikirkan bagaimana supaya petani di lingkungannya tetap bisa bertahan. Sebagai perempuan sekaligus ibu, ia bersimpati terhadap petani yang hidupnya mulai morat marit. Padahal mereka harus selalu menghidupi keluarga. Saat itu, Yuliana yang akrab disapa Lin itu melihat labu sangat mudah tumbuh dan ada dimana-mana. Sejauh itu, labu hanya bias dijadikan kolak sehingga tak bernilai lebih. Saking tidak berharganya, labu tersebut dibeli secara "Batongkong" atau dengan cara tradisional. Selain menjadi Kolak juga sebagai oleh-oleh untuk diberikan kepada famili saat mereka berkunjung/ Itupun hanya satu kali pemberian pada saat pemberian kedua dan ketiga sudah tidak diterima lagi. "Pada saat pemberian pertama, famili sangat bangga mendapatkan labu yang besar, pada kedatang kedua sudah agak senyum-senyum saja, pada saat pemberian ketiga kalinya udah mulai menolak, karena yang diberikan kemaren masih ada," tuturnya seraya tertawa. Maka tahun 2004, Lin mulai mencari alternative dengan membuat kerupuk labu. Tetapi menurutnya, rasanya tidak enak . Setelah dibuat terus dibuang. Namun Lin tidak mau berhenti disitu saja. Ia mencoba lagi dan terus mencoba agar mendapatkan resep menjadikan kerupuk labunya enak. Kegigihannya mulai membuahkan hasil. Rasanya mulai enak. Tapi dari struktur bentuk, tidak enak dilihat. “Bagaimanapun, untuk dijual, kerupuk labu itu harus enak dirasa dan enak dipandang. Ada kalanya bentuknya bagus, tapi rasanya kembali tidak enak. Begitulah terus menerus saya lakukan, hingga mendapatkan hasil yang maksimal,” jelasnya kepada padangemdia.com saat menyambanginya di Matur. Akhirnya, selang dua tahun, apa yang diusahakannya berhasil juga. Tahun 2006, ibu tiga anak tersebut berhasil dan eksis membuat kerupuk labu. Karena keberhasilannya membuat kerupuk labu, praktis berdampak pada buah labu itu sendiri. Labu yang biasanya ditolak sebagai buah tangan kepada family itu mulai manampakkan nilainya. Pemilik tananam labu berangsur-angsur memasok labu ketempat Lin. Karena kebutuhannya semakin bertambah, akhirnya petani yang dulunya menanam cabai berubah haluan menanam labu. Kerupuk labu Lin makin dikenal orang, bahkan sampai ke Malysia. Suami dari Hermansyah ini mulai mempekerjakan orang di tempatnya. Dengan 6 orang karyawan ia mengembangkan usahanya dengan membuat stik labu yang kemudian juga menjadi popular. Pada tahun 2008, Lin yang suka berinovasi mencoba pula membuat gelamai. Kalau basanya gelamai dibikin dari beras, sedangkan ia membuatnya dari labu. Kepiawaian Lin mengolah labu membuat Pemkab Agam merasa perlu menggelar sebuah kegiatan dengan tema berbagai produk dari labu pada tahun 2010. Acara itu diberi nama “ seribu satu mangkok kolak labu”. Kegiatan ini member I rekor MURI bagi kabupaten Agam. Semenjak rekor MURI itulah labu mulai diminati para petani untuk menanamnya, karena para petani sudah tahu tempat menjualnya. “Berapapun labu yang dibawa petani ketempat saya, akan saya tamping,” ucapnya. Saat ini ia membutuhkan 300 kg setiap kali mengolah labu. Sejauh ini, kebutuhan labu di tempatnya masih belum terpenuhi. Pasalnya, petani itu selain menjual ke tempat Lin, juga menjualnya di pinggir jalan. Berbagai macam kuliner kemudian ia hasilkan dari buah labu untuk menarik perhatian wisata ke Kecamatan Matur yang sejuk dan dingin ini. “Labu bisa diolah untuk menjadi makanan yang enak untuk dikonsumsi kalau diolah secara professional. Ia akan menjadi kuliner yang dicari pengunjung yang datang ke Kecamatan Matur,” ucapnya yakin. Makanan yang bisa dihasilkan dari labu diantaranya kerupuk Labu, Risoles labu, pastel labu, stik labu, puding labu, kolak labu, cendol labu, gelamai, serta makan khas lainnya. “Sampai saat ini pemasaran makanan itu hanya di autletkan di Kecamatan Matur. Tujuannya supaya orang dating langsung je Matur bila hendak mencicipinya. Melalui labu kita mengundang orang dating ke sini,” ujarnya. Bila dijual atau dilakukan pemasaran dengan menggunakan agen, tambahnya, orang tidak akan datang lagi ke Matur, sehingga tempat wisata yang ada di kawasan ini jarang dikunjungi wisatawan. Sementara untuk membuat kerupuk labu, menurutnya, hanya labu Matur saja yang bisa dijadikan bahan baku. “Labu Matur dagingnya lebih tebal, airnya sedikit serta banyak keunggulannya,” ujarnya setengah berpromosi. (wan)





