Terbetik
- KPMPT Agam Kini Dilengkapi Tempat Bermain AnakRabu, 19 Juni 2013 10:04 wib
- Pembebasan Lahan Jadi Kendala Pembangunan Fisik di ...Rabu, 19 Juni 2013 08:10 wib
- Juara Talenta Kid Tampil di Hadapan Senator SumbarRabu, 19 Juni 2013 06:25 wib
- Anggota KPU Harus Bisa Bekerja TimRabu, 19 Juni 2013 05:34 wib
- 933 Lulusan SMA di Agam Diterima di PTNRabu, 19 Juni 2013 05:15 wib
- Belajar Sejarah Minangkabau Lewat RandaiRabu, 19 Juni 2013 02:55 wib
-
Inilah Rute Tour de Singkarak 2013
PADANG -Tour de Singkarak, iven pariwisata dan sport yang dimulai hari ini mempunyai 7 etape ... baca selengkapnya »
Komentar
"Tania", Novel Remaja yang Sarat Nilai-nilai Budaya
PADANG-Sebuah novel karya Asye Saidra berjudul Tania mendapatkan sambutan luas dari remaja dan mantan-mantan muridnya saat peluncuran novel tersebut di Auditorium Gubernuran Sumatera Barat kemarin.
Novel yang menceritakan kehidupan perempuan remaja bernama Tania yang sudah menjadi anak yatim semenjak kematian ayahnya. Bersama seorang kakak laki-lakinya Aldino dan adik laki-lakinya Andiko, mereka hidup di bawah tanggungan ibu semata. Mereka berdiam di Kampung Timbarau yang terletak di Kamang Magek, Agam. Ibunya bekerja sebagai penjual kacang yang dibantu Tania dan adiknya, sedangkan Aldino bersekolah di Padang.
Cinta segitiga mewarnai alur cerita, ada sahabatnya Farira dan Cantika yang sama-sama menyukai Meilano. Rumitnya, Meilano dan Tania adalah saudara sepupu atau "dunsanak ibu" akhirnya berpisah karena Tania harus melanjutkan sekolah ke Padang lalu ke Australia.
"Sebuah rajutan cerita yang sarat dengan petuah dan menceritakan kehidupan yang merakyat di Sumatera Barat namun tetap bertabur bumbu cinta,"ujar Eva Krisna, Peneliti Sastra di Balai Bahasa Sumatera Barat, saat membedah novel karya Asye Saidra yang pernah menjadi guru di SMU Pertiwi I Padang, kemudian pindah ke Tapaktuan, Aceh.
Eva Krisna yang membedah buku ini bersama Budayawan Jakarta Abrar Yusra menyebutkan, banyak nilai-nilai budaya yang dikandung novel Tania dapat diperoleh dengan menyimak karakter pelaku, khusunya karakter Kani, ibu Tania karena tokoh inilah yang berperan sebagai penggerak cerita. Nilai budaya tersebut adalah nilai budaya Minangkabau yang diselaraskan dengan ajaran Islam.
"Kani seperti mewakili suara pengarang novel ini sendiri, yakni menyampaikan nilai-nilai yang dapat dipedomani oleh orang banyak,"urai Eva.
Sementara itu ketua Himpunan Wanita Karya (HWK), Sastr Y Bakry yang berperan sehingga buku ini diterbitkan mengatakan terkesan dengan semangat Asye yang masih berproduksi pada usianya yang sudah 69 tahun. Disamping itu Tania juga merupakan sebuah novel yang baik dan layak dibaca oleh remaja hingga orang tua.
"Jika Abrar Yusra mengatakan bahasa novel ini terlalu manis, apakah layak sebagai sebuah karya atau tidak, entahlah yang jelas karya Bu Asye mengandung nilai budaya dan sarat pesan moral menurut saya,"tukasnya.
Hadir saat peluncuran buku tersebut, Nelvy Irwan Prayitno, Kadisbudpar Sumbar Burhasman, Kepala Taman Budaya Sumbar Efiyarti serta beberapa orang penyair, Komunitas Sumbar Talenta serta pecinta sastra Sumatera Barat.(der)





