Terbetik

Komentar

Usaha Ayam Petelur Bunda FAM Timbulkan Bau Busuk

padangmedia.com , Rabu, 13 Agustus 2008 00:00 wib
TANAH DATAR- Sejumlah warga di nagari Pabalutan, Kecamatan Rambatan mengeluhkan kegiatan yang dilakukan pengusaha ayam petelur Bunda Fam. Menurut beberapa warga setempat, lokasi usaha ayam petelur Bunda Fam yang berada di pinggir jalan Batusangkar-Ombilin KM 5 itu menimbulkan aroma tak sedap hingga radius 3 Kilometer. " Bau busuk yang dihasilkan daerah sekitar disebabkan adanya usaha ayam petelur Bunda Fam. Bau busuk itu tidak saja menyengat di pagi dan sore hari. Ketika siang hari, meskipun banyak kendaraan yang berlalu lalang, bau busuk itu tetap menyengat," sebut Ulya, salah seorang warga kepada padangmedia.com, Rabu (13/8) Timbulnya aroma tidak sedap dari usaha yang dilakukan pengusaha petelur ayam itu sebenarnya telah di kritisi oleh sejumlah warga. Bahkan, dalam kurun tiga bulan terakhir, sejumlah warga juga telah membuat laporan kepada bagian Lingkungan Hidup (LH) Kabupaten Tanah datar. " Kami sudah melaporkan keluah kami kepada bagian LH di kabupaten Tanah Datar. Bahkan kami juga melayangkan surat kepada Dinas Koperasi, Perindustrian, Perdagangan dan Pertambangan (Koperindagtam) untuk mengevaluasi izin yang diberikan kepada pengusaha ayam petelur itu. Sayangnya hingga kini usaha tersebut tetap berjalan seperti biasa," keluhnya. Sementara itu, pemilik usaha ayam petelur Bunda Fam. Gusril saat ditemui padangmedia.com dikediamannya, mengaku telah berupaya keras untuk mengantisipasi terjadinya aroma tidak sebab akibat kegiatan usahannya itu. Hanya saja, keluh Gusril, dengan adanya fluktuasi harga barang yang tidak pasti membuat dirinya tidak dapat berbuat banyak dalam melakukan upaya-upaya tersebut. " Untuk mengantisipasi timbulnya aroma tidak sedap dari peternakan ayam petelur ini, kami sudah menyebarkan kapur-kapu disekeliling kandang. Biasanya, dari tiap 1 ton makanan ayam, kami menyebarkan 50 Kilogram kapur agar bau makanan dan abu ternak tidak menyebar terlalu luas. Namun dengan terjadinya lonjakan harga, kami tidak dapat menambah jumlah kapur agar bisa menghilangkan aroma tak sedap tersebut" keluhnya. (rio)
Berita Terkait